"When no body understand ,
here I write everything I feel ..
here I scream ..
here I tell everything ..
and here I can speak from the deepest of my heart ..
"

Jumat, 20 April 2012

Arti Hidupku


Semuanya bagai sebuah mimpi di fikirku ..
Detik demi detik, senyumku meluluh, hancurr ..
Aku bagai sebuah pohon yang meliang di makan usia ..
Kehilangan cinta sejati yang aku punya ..
Tanpamu, aku hanya sebuah onggokan batu karang yang tak berarti ..
Asaku untuk membahagiakanmu ..
Menjadi butiran debu ..
Siapakah aku ini?
Tak siapa pun mampu menjawabnya ..
Tak sepatah kata pun dapat memberikan arti diriku bagimu ..
Ya, inilah aku ..
Seorang gadis, yang datang untuk memberikan cinta padamu ..

Kamis, 19 April 2012

Kamu

Kemarin, dia hadirr lho di hape saya .. :D
akuu critain smuanya .. tentang sekolah, sifatku yang skarang, pokoknya smuanya ..
dan dia tanya "Why?" aku cuma njawab kalo gaa ada alasan buat aku bertahan sampek skrng ..
sbenernya aku mau ngomong "krn kamu pergi .." but I can't lah ..
stelah ituu dia ngomong "ya buat mimpi" kamu lah pastinya, buat cita" kamu jadi dosen" dan endingnya aku ngomong "udh tenang ajaa .. smua bakal baik" aja" .. akhirnya dia ngomong "oke, sms aku kalo kamu udah balik lagi kayak dulu" yeahh .. dan pernyataannya ituu, bikin aku pengen cepet" brubah ..
DEMI KAMU, APA SIH YANG ENGGA?

Rabu, 18 April 2012

aku khawatir soal kamuu ..
kamu dimana? gaa perna ada kabar ..
tauu gaa sihh? cuma kamu yang bisa bikin aku smangadd .. 
please, ada oo sekarang, bsok n' slamanya buat akuu ..
karena sampai detik ini, cuma kamu yang aku harepin ..

Curhat :(

Well, aku mau ngangkat topik keluhanku saat ini ..
of course "tntang skolah" ..
gimana ya? asal kalian tauu, aku jadi ancuurr bangett ..
suka dimarain guru, but I don't care ..
ak malahh ketawa dan brusaha supaya kejadian itu trulang .. gila kan?
nilaiku juga down banget ..
dapet 40, tapi ya ituu aku teuteuupp aja gaa pduli ..
catetan? jangan tanyaa dehh .. buku kosong sekosong-kosongnya ..
alasannya MALES!!
PR? haduuhh -______- ya gitu, gaa perna kerja ..
sekolah? aku slalu kepikiran buat bolos, alesan sakit lah, ini lah, itulah ..
tapi untungnya, gaa perna aku lakuin ..
aku cuma peduli sama yang namanya seneng-seneng, smsan, onlen, fotografi ..
aku gapunya semangat buad urusan sekolah ..
1 hal .. akuu ngrasa gaa ada gunanya sekolah ..
gaa ada yang bisa aku perjuangin .. sekarang, kalo dipikir, aku belum punya alesan, siapa yang mau aku perjuangin?!
dulu, ada kamu .. yang aku perjuangin ..
but now? You have gone .. dan itu bikin aku terpuruk banget ..
seakan smuanya udah slese ..
aku sering nangis sendiri mikirin hal ituu .. aku bener" frustasi ..
hahh .. -_____________-
aku butuh seseorang .. butuh kamuu ..
sekedar buat ndukung aku, buat ngasii alesan kalo smuanya layak buat diperjuangin ..
*done

Jumat, 13 April 2012

Sekedar Sahabat


“Kitaaaa!! Help me!!” teriak Gia dari kejauhan “Kamu kenapa sih?” tanya Kita setelah Gia berada di sampingnya “Aku dikejarr terus sama Vanii! Mau dilemparin pakai kursi guru!” jawab Gia dengan nafas ngos-ngosan karena kelelahan “Haha .. Kok bisa? Ngerjain dia lagi?” tanya Kita mengerti kebiasaan Gia, Gia hanya tersenyum simpul memamerkan lesung pipitnya “Mau sampai kapan sih kamu ngerjain Vani terus?” tanya Kita sambil menikmati segelas es jeruk yang telah dipesannya “Sampai dia nggak sok pinter di depan aku” jawab Gia santai “Salahnya waktu aku nggak bisa ngerjain soal fisika, dia dengan santainya maju ke depan, ngrebut spidol dari tanganku, terus nulisin jawabannya di papan ..” “Mungkin maksud Vani baik Gia, dia mau ngajarin kamu, supaya kamu itu pinteran dikit soal fisika ..” kata Kita sambil tertawa terbahak-bahak melihat Gia manyun “Haduuhh! Tauu dehh!! Males mbahas dia, kalo gitu aku balik ke kelas duluann ya!” teriak Gia sambil berjalan meninggalkan Kita.
“Giaa! Mau pulang bareng nggak?” tanya Kita ketika melihat Gia berjalan mendekatinya dan mobilnya “Boleehhh bangett!” balas Gia sambil hendak masuk ke mobil Kita “Ehh .. Ehh .. Ta, tau nggak? Vani suka sama Aditya lhoo” teriak Gia ketika melihat Vani berjalan melewatinya, alhasil Vani menghentikan langkahnya dan dia terlihat sangat kaget setelah mendengar perkataan Gia “Gia! Jangan ngawur kalau ngomong!” teriak Kita sambil keluar dari mobilnya “Ada kakak kelas yang suka sama Aditya! Bisa-bisa Vani dilabrak sama dia, gara-gara denger kamu ngomong gitu!” “Kita?” tanya Gia tak percaya mendengar perkataan Kita, baru pertama kali Gia melihat Kita semarah itu padanya, Gia segera menutup pintu mobil Kita dan berlari menerobos kerumunan teman-temannya yang sedang memperhatikannya “Giaa” panggil Kita sambil mencoba mengejar Gia.
*********************************
 “Hallo mbok, Gianya ada?” tanya Kita lewat telephon “Non Gia? Waduhh, dari tadi belum pulang non ..” jawab mbok Mirah, pembantu rumah tangga Kita “Belum pulang? Sekarang udah jam 10 malam mbok” kata Kita gelisah “Saya juga kurang tau non” balas mbok Mirah bingung “Ya udah, makasih ya mbok” pinta Kita sambil menutup telphonnya malam itu. “Gia, kamu kemana sihh?” tanya batin Kita setelah telphon antara dirinya dan mbok Mirah terputus, Kita segera mengambil handphonenya dan mencari-cari nama Gia di kontak handphonenya “Maaf, nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif” kata sang operator menambah kegelisahan di hati Kita “Handphonenya nggak aktif lagi dari tadi! Giaa .. Jangan bikin akuu ngrasa bersalah gini dongg!! Please .. Kasi aku kabar!!” teriak Kita depresi di kamarnya.
*********************************
“Vani .. Tauu Gia nggak?” tanya Kita ketika melihat Vani di dalam kelas Gia “Seharian ini dia nggak ada Ta! Kamu kenapa? Sakit?” tanya Vani sambil memperhatikan Kita yang sedang lemas hari itu “Aku baik-baik aja kok!” jawab Kita sambil tersenyum “Aku khawatir sama Gia! Dari kemarin dia nggak ada kabar sama skali” “Aku yakin, dia baik-baik aja Ta! Dia cuma butuh nenangin diri!” kata Vani sambil menepuk bahu Kita, memberi semangat “Aku harap juga gitu!” balas Kita “Aku minta maaf ya Ta! Gara-gara aku, kamu jadi cemas mikirin Gia” pinta Vani merasa bersalah “Nggak apa-apa Van! Aku yang salah, terlalu keras sama dia! Udah tau Gia ituu anaknya manja banget ..” kata Kita sambil mencoba tersenyum, untuk melegakan hati Vani.
***********************************
Selama 5 hari, Gia tidak masuk sekolah, selama 5 hari pula Gia tidak ada kabar sama skali, dan tanpa disangka-sangka, tiba-tiba Gia muncul di sekolah, tapi dengan sosok yang berbeda, bahkan seperti bukan Gia. Gia berubah menjadi orang yang pendiam dan suka menyendiri “Gia!!” panggil Kita mencoba meraih tangan Gia, Gia hanya menoleh tanpa mengatakan sepatah kata pun “Kamu kemana aja? Aku khawatir sama kamu!” kata Kita “Masih perduli kamu sama aku?” tanya Gia datar “Kamu ngomong apa sih Gia? Jelas aku perduli sama kamu! Kamu sahabat aku!” teriak Kita sambil mulai menitikkan air mata “Kamu masih nganggep aku sahabat?” tanya Gia lagi, tetap datar “Giaa!! Jangan kayak gini” kata Kita memohon “Tangan kamu kenapa Gi?” “Nggak kenapa-kenapa” terang Gia sembari menarik tangannya dari pegangan Kita lalu pergi meninggalkan Kita seorang diri.
***********************************
Esoknya, Gia nggak ada lagi di sekolah. Hal itu membuat depresi Kita semakin menjadi-jadi “Giaa! Kamu kemana lagi sihh?” tanya Kita sambil mecari sosok Gia “Gia nggak masuk hari ini” jawab semua orang yang ditanyai Kita tentang keberadaan Gia. Sepulang sekolah, Kita pergi ke rumah Gia, diantar oleh pak Sentot, supir pribadi Kita. Perlahan-lahan, Kita memasuki rumah megah itu “TOKK .. TOKK .. TOKK” “Ada yang bisa dibantu non?” tanya mbok Mirah dengan ramah “Gia ada nggak mbok?” tanya Kita “Non Gia masuk rumah sakit non .. tadi pagi baru masuk” jawab mbok Mirah “Sakit apa mbok?” tanya Kita histeris karena kaget “Kurang tau saya non! Yang jelas dia dirawat di rumah sakit Fatmawati” jawab mbok Mirah “Ya udah, makasih mbok” teriak Kita sambil berlari menuju mobilnya. Dengan kecepatan 75 km/jam, mobil BMW merah itu melaju menuju rumah sakit Fatmawati, tempat Gia dirawat sekarang. Setelah sampai di rumah sakit, Kita berlari sekuat tenaga menuju ruang UGD, pikirannya sudah terlanjur sangat panik “Om, Gia mana?” tanya Kita ketika melihat orang tua Gia, ayah Gia hanya mengembuskan nafas “Gia sudah nggak ada Ta” jawab ibu Gia perlahan, menjaga perasaan Kita “Jangan bercanda tante! Gia masih ada” kata Kita sambil terduduk lemas “Memang itu kenyataannya Kita” pinta ayah Gia sambil berusaha membendung air matanya “Dia meninggal karena depresi, kami kurang perhatian sama dia! kemudian dia mulai mencoba menggunakan narkoba dan over dosis” mendengar pernyataan dari orang tua Gia, Kita langsung menghambur masuk ke dalam UGD. Dilihatnya Gia terbaring lemas, sudah tak berdaya “Gia, aku minta maaf” pinta Kita, dadanya terasa sesak harus menerima kenyataan bahwa Gia sudah tidak ada lagi, dengan sifat jailnya “Aku memang salah! Maaf Gi! Padahal aku tau sendiri, kondisi keluarga kamu kayak apa ..” lanjutnya lagi, ditemani air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya, kali ini tak hanya Kita yang meneteskan air mata, Gia pun begitu, tiba-tiba terlihat benda bening yang mengalir dari matanya “Gia, istirahat yang tenang ya? semua tentang kamu, akan selalu tersimpan di hatiku” kata Kita mencoba tersenyum sambil menghapus air mata di pipi Gia.

Tapi Bukan Aku


Dinda terus berlari, tak perduli berjuta tetes hujan menyerang tubuh mungilnya, sekali lagi dia melihat jam tangannya “Jam 4 sore”, tiba-tiba sebuah ferrari berwarna hitam berhenti tepat di depannya, cepat-cepat ia masuk ke dalam mobil, untuk menghindari lebih banyak tetes-tetes hujan merajam dirinya. “Kok baru jam segini sih pak jemputnya?” tanya Dinda sambil manyun “Maaf non, tadi di jalan macet banget” terang pak Yitno, supir Dinda, Dinda hanya merespon penjelasan pak Yitno dengan sebuah anggukan “Sekali lagi maaf ya non” kata pak Yitno tak enak hati, melihat majikannya basah kuyup “Iya pak” jawab Dinda, lalu ia kembali memperhatikan hujan yang terus mengguyur kota Malang hari itu.
*********************
“Rachel, ikut aku yuk?” paksa Dinda sambil memohon “Mau kemana sih?”  tanya Rachel tak mengerti “Ke mall” jawab Dinda sambil meringis “Sorry, lagi bokek” terang Rachel sambil menggoyangkan telapak tangannya “Aku yang traktir deh” rayu Dinda sambil terus memohon “Uhm gimana ya?” kata Rachel berpura-pura sedang mempertimbangkan “Okelah! Karena kamu sahabat terbaikku! Tapi, kamu yang traktir!!” “Alahh kamuu!! Iyaa .. iyaa” teriak Dinda sambil menjitak kepala Rachel, dan jadilah sore itu Dinda dan Rachel diantar pak Yitno menuju mall. Saat mereka sedang asik memesan makanan, tiba-tiba Rachel dikejutkan oleh sosok seseorang, yang menurutnya tak asing lagi untuknya “Itu kayak Angga deh”, Dinda langsung mencoba mencari-cari sosok laki-laki yang ditunjuk oleh Rachel “Iya, dia kok sama cewek lain?” tanya Dinda sambil terus memperhatikan Angga “Iyaa, jangan-jangan dia punya cewek lain lagi!” teriak Rachel cemas “Sstt, jangan mikir kayak gitu deh!” kata Dinda sambil menepuk bahu Rachel “Coba kamu sms dia”, Rachel segera mengeluarkan handphonenya dan segera mengetik sebuah kalimat di handphonenya, 15 menit .. 25 menit .. 1 jam .. 2 jam .. tetap tak ada jawaban bahkan sampai Dinda dan Rachel meninggalkan mall.
“Aku khawatir Din” kata Rachel disela kebisuannya “Khawatir soal Angga?” tanya Dinda sambil mengembuskan nafas beratnya , Rachel hanya mengangguk sambil menahan tangisnya. Dinda merasa tak tega melihat sahabanya sedih, “Berapa sih nomernya Angga?” tanya Dinda tiba-tiba, Rachel segera menyerahkan handphonenya, dengan sigap Dinda mencatat nomor handphone Angga, “Aku duluan ya? makasih ya Din” kata Rachel sambil turun dari mobil Dinda, terpancar jelas kesedihan dari wajah sahabatnya itu.
************************
Pukul 11 malam, tunjuk jarum jam yang dengan setia menemani Dinda. Dinda segera mencari-cari sebuah nama di kontak handphonenya dan menekan tombol “call”. Dengan harap-harap cemas, Dinda menanti jawaban dari orang itu “Hallo” terdengar suara berat seorang laki-laki “Angga!” teriak Dinda “Iya? Ini siapa?” tanya Angga “Dinda..” jawab Dinda singkat “Uhmm .. Kenapa Din?” tanya Angga, terdengar nada kaget campur takjub dari suara berat Angga “Tadi sore aku liat kamu lagi di mall sama cewek lain! Siapa dia? Kamu tau nggak? Rachel sedih banget liat kamu sama cewek itu” tanya Dinda menahan marah “hah? Rachel liat aku? Dia ada dimana? Ya ampun Din, maksud kamu Candy? Dia itu adekku” terang Angga panjang lebar “Dia shock berat tauu!!” teriak Dinda geram “Din, sumpah! Demi apa aja, Candy itu adekku!” teriak Angga, cemas “Kamu nggak bohong kan?” selidik Dinda, takut kalau ternyata sahabatnya hanya dipermainkan “Iyaa Din!” jawab Angga “ya udah, jelasin ke Rachel!” kata Dinda, mengurangi emosinya “Iya! Kamu tenang aja!” pinta Angga. KLIK. Telephon pun terputus, “Hufftt” Dinda menghembuskan nafasnya, lega.
***************************
TOKK .. TOKK .. TOKK .. “Haii” sapa Dinda begitu melihat tamunya “Masuk Chel”. Rachel segera melangkahkan kakinya, “masih seperti dulu” batin Rachel, rumah gaya klasik ini yang mampu membuatnya tenang sejak dulu “Tumben Chel, main ke rumah” celetuk Dinda tiba-tiba, membuyarkan lamunan Rachel “Masalah buat loe?” tanya Rachel sambil tersenyum “Haha, kagakk lah” teriak Dinda sambil menjitak kepala Rachel, gemas “Gimana Angga?” tanya Dinda tiba-tiba “Haha, gilaaa so sweet banget dia! Sampek nggak bisa tidur akuu saking senangnya” jawab Rachel, terdengar nada bahagia dari suaranya “aku ikut seneng dengernya” jawab Dinda mencoba tersenyum. Hati Dinda seolah bergejolak kecewa, mendengar semua tentang Angga dari mulut Rachel, yaa tak dapat dipungkiri bahwa Dinda menyimpan rasa untuk Angga, namun apa daya bahwa Angga sudah ada yang punya, dan cewek itu adalah Rachel, sahabatnya sendiri, jadi Dinda harus membuang jauh-jauh rasa sayang itu demi Rachel, “Well, udah sore nih! Aku pulang dulu ya! bisa dihajar mama nihh!” pamit Rachel seraya keluar dari dalam kamar Dinda “Haha, iya .. ya udahh .. baii” jawab Dinda sambil tersenyum, seraya mengantar Rachel ke depan rumahnya. Jejak Rachel segera menghilang di balik gelapnya malam.
Dinda segera mengambil handphonenya dan mencari-cari nomer Angga di kontak handphonenya “Hallo Din” terdengar suara berat Angga “Angga, aku boleh ngomong sesuatu ke kamu?” balas Dinda, terdengar nada ragu dari suaranya “Boleh! Mau ngomong apa Din ..” kata Angga serius “Ngga, sebenarnya aku suka kamu” kata Dinda tiba-tiba. HENING .. “Ngga?” panggil Dinda “Iya Din?” Angga masih takjub mendengar ucapan Dinda “Kamu nggak marah kan?” tanya Dinda “Nggak kok, ngapain harus marah? Tapi, maaf .. aku nggak bisa!” jawab Angga “Aku mau setia sama Rachel” “Aku tahu kok, nggak masalah buat aku, yang penting aku udah jujur sama kamu” celetuk Dinda santai “Sorry ya Din?” kata Angga, merasa bersalah “Nggak apa-apa Ngga” jawab Dinda menahan tangisnya. KLIK.
Dinda terduduk lemas menerima kenyataan pahit itu, lalu dia mengambil gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu di sela tangisnya
“Jangan lagi kau sesali keputusanku
Ku tak ingin, kau semakin kan terluka ..
Tak ingin ku paksakan, cinta ini ..
Meski tiada sanggup untuk kau terima ..
Aku memang manusia paling berdosa,
khianati rasa demi keinginan semu ..
Lebih baik, jangan mencinta biar ku dan semua hatiku ..
Karna takkan pernah, kau temui cinta sejati ..
Berahirlah sudah semua kisah ini dan jangan kau tangisi lagi ..
Sekali pun aku takkan pernah mencoba kembali padamu ..
Sejuta kata maaf terasa kan percuma,
sbab rasa ku tlah mati untuk menyadarinya ..
Semoga saja kan kau dapati hati yang tulus mencintaimu..
Tapi bukan aku ..”

Tak Bisa Memiliki


“Radiaaa” panggil Eline menyebut namaku, suara soprannya terdengar jelas di telingaku, aku segera mendongak mencari-cari sosoknya, dan tanpa sadar ternyata dia sudah berada di sampingku “What?” tanyaku sambil terus berkonsentrasi pada cerita di laptopku “Aku suka sama Christof deh kayaknya” jawab Eline sambil menunggu reaksiku. Deg! Jantungku serasa berhenti berdetak, itu berarti aku harus saingan sama sahabatku sendiri buat ndapetin Christof?! “Terus?” tanyaku mencoba tenang “Kamu bantuin aku ya?” pinta Eline memohon “Iya” jawabku ragu “Yess!!” teriaknya girang, aku tersenyum melihat reaksinya, padahal aslinya, jantungku udah berhenti berdetak, “Ra?” panggil Eline sambil menggoyangkan lenganku “Kamu kenapa?” tanyanya lagi, setelah beberapa detik, aku baru sadar bahwa Eline sedang menunggu jawabanku “Nggak apa-apa” jawabku singkat, jelas, jawaban itu menyorotkan nada ragu di hatiku.
“Haii Radiaa” sapa seorang cowok menggangguku melamun “Apa?!” sentakku kasar sambil mencoba melihat siapa yang menggangguku saat ini, astaga ternyata dia CHRISTOF!! “Eh, sorry! Kenapa Chris?” kataku mencoba meralat kata-kataku sebelumnya “Aku duduk di sebelah kamu boleh?” tanyanya pelan “Iya” jawabku singkat, tapi hatiku sanggaatt bahagia “Rad, aku minta nomer handphone kamu ya?” tanyanya sambil menatap mataku “Hah? Apa Chris?” teriakku kaget “Minta nomer handphone kamu Rad! Boleh?” ulangnya “Oke” jawabku spontan, Christof segera mengeluarkan handphone BlackBerry dari dalam saku kaos basketnya “081233767574” kataku dan dengan sigap, Christof mencatatnya di handphonenya “Siipp, makasih Rad” teriak Christof “Aku tanding dulu ya?” aku hanya mengangguk untuk menanggapi kata-katanya.
Huahh, saatnya pulang sekolah, berarti aku harus berjalan kaki buat pulang. Aku terus melangkah dengan lesu dan tiba-tiba “TIINN!” aku segera menoleh untuk melihat siapa pemilik mobil itu, kaca mobil mercy hitam itu perlahan-lahan turun dan mulai menunjukkan siapa pemilik mobil itu “Christof?” panggilku “Pulang sendiri?” tanyanya sambil tersenyum, aku mengangguk lesu “aku antar yuk?” katanya sambil membukakan pintu mobil untukku “Nggak usah, thanks” jawabku halus, Christof memaksaku untuk masuk ke mobilnya, dan dengan terpaksa aku menanggapinya, terpaksa karena takuutt kalau Eline melihat Christof berdua denganku “Rumah kamu dimana?” tanya Christof di sela kebisuannya “Jl.Permai nomer 23” jawabku sambil melirik wajah Christof. Perlahan-lahan namun pasti, akhirnya sampai juga di rumah, aku tersenyum lega dan cepat-cepat turun dari mobil “Thanks Chris” kataku sambil buru-buru masuk ke dalam rumah “Radiaa” panggilnya menghentikan langkahku “ya?” jawabku sambil menatap matanya “besok pulang sama aku lagi ya?” pintanya, Christof segera memasang tampang innocent “Nggak usah” teriakku menolak “Ayolahh” pintanya lagi “Liat besok ya?” jawabku final “Oyii” teriaknya puas sambil menginjak pedal gas. Aku segera berlari masuk ke rumah dan ku lihat Eline sudah berada di ruang tamu tengah menungguku sambil membaca majalah koleksiku “Eline?” panggilku kaget “Kamu tadi pulang sama siapa? Pacar kamuu?” selidiknya “Mobilnya kayak mobilnya Christof! Atau jangan-jangan dia emang Christof?!” “itu .. ituu bukan Christof! Nggak mungkin lahh!!” jawabku tegang “Ohh ..” desah Eline kembali fokus pada isi majalahku, aku segera duduk di samping Eline, mengambil sebuah majalah dan perlahan-lahan mulai hanyut. “Handphone kamu bunyi tuh!” kata Eline mengagetkanku sambil memperhatikan handphoneku, aku mengambilnya dan membaca nomer yang tertera di sana “Kamu tau ini nomer siapa nggak?” tanyaku pada Eline, Eline menggeleng lemah, ku tekan tombol ‘answer’ dan menjawab telephon itu “Hallo?” sapaku pelan “Radia?” panggil sang penelepon “Iya, ini siapa?” tanyaku tetap pelan “Christof” jawabnya singkat “WHHAATT?!” batinku berteriak kegirangan “Kenapa Chris?” tanyaku sambil menjauh dari Eline “Lagi apa?” tanyanya pelan, suaranya sehalus beledu “Lagi duduk-duduk sama Eline” jawabku “Chris, udah dulu ya?” kataku lagi mengakhiri pembicaraan “kenapa?” tanyanya bingung, tapi segera ku tekan tombol ‘end’ “siapa sih Rad?” tanya Eline penasaran “Abangku” jawabku berbohong, Eline mengangguk tanda mengerti.
**********************
“Haii Rad” teriak Christof lalu langsung duduk di sebelahku “hai Chris” sapaku lembut “Radd! Aku mau ngomong sama kamu boleh?” tanya Christof “Ngomong aja Chris” jawabku sambil tertawa “Sebenernya, aku suka kamu!” kata Christof perlahan tapi sanggup membuat hatiku berdisko ria. Deg .. Deg .. Deg .. “kamu mau jadi pacarku?” lanjutnya lagi, aku tercenung sesaat, memikirkan jawaban apa yang pas untuk saat ini “sorry Chris, aku nggak bisa!” jawabku lemas “kenapa?” selidiknya “karena sahabatku juga suka sama kamu!” jawabku mulai membentak “Eline?” tanya Christof, aku mengangguk  “sorry ya?”, Christof tersenyum, meski ada guratan kecewa dan sedih di wajahnya.
***********************
“Raddiiiiiiiiiiiiaaaaaa” panggil Eline dari kejauhan sambil berlari ke arahku “Kemarin, Christof telephon aku!!” teriaknya histeris, aku hanya mengangguk, dadaku sesak rasanya “dia ngajak aku pulang bareng hari ini” lanjut Eline, pikiranku melayang, mengingat kejadian beberapa hari lalu. Aku dan Christof. Kita. Aku menelungkupkan kepalaku, dari kejauhan Christof memperhatikan aku dan Eline, entah dia memperhatikan aku atau Eline, aku tak peduli, yang jelas di wajahnya tampak raut wajah khawatir. Seusai bertanding, Christof duduk menjajari aku dan Eline  “Makasih ya” bisikku pelan, Christof memperhatikanku “Buat?” “kamu udah bikin Eline seneng” jawabku pelan “Urwell” jawabnya sambil mengangkat bahunya “Line! Pulang yuk?” ajak Christof “Ayoo” jawab Eline semangat “Rad, aku pulang duluan ya?” kata Christof sambil memperhatikan guratan kesedihan di wajahku, aku mengangguk sembari melambaikan tangan ke arah mereka berdua.
*******************
                Aku menutupi wajahku dengan sehelai selimut, saat tiba-tiba handphone ku berbunyi “Eline” desisku “Hallo?” jawabku “Kenapa Line?” “Do you know? Aku jadian sama Christof!!”teriak Eline histeris dan senang “Haha, selamat ya?” pintaku bahagia, padahal aslinya aku nangis “Makasih, besok aku sama Christof mau nraktir kamu makan” jelasnya bahagia “Oke!” jawabku dan ku matikan handphoneku, takut kalau Eline menjelaskan semuanya, jantungku berhenti berdetak.
****************
                “Nanti aku sama Christof njemput kamu jam 7 malem! Kita makan bareng” begitu lah isi pesan dari Eline tadi pagi dan sekarang sudah pukul 18.45, aku masih bingung harus memakai baju apa, akhirnya ku putuskan memakai T-Shirt kuning favoritku dan dipadukan dengan kemeja putih lalu celana jeans dan sepatu kets putihku. Suara mobil Christof menggema hingga dalam kamarku, aku segera menuruni tangga dan menghambur masuk ke dalam mobil Christof. Mobil melaju dengan kecepatan 50km/jam, dan sampailah kita bertiga di restaurant favoritku dan Eline. Tampak jelas kebahagiaan di mata Eline ketika menatap mata Christof, sedangkan aku? Perasaanku campur aduk lah intinya. Saat aku memperhatikan Christof, tanpa sengaja Christof menatap mataku, dia mencoba tersenyum di hadapanku, aku mengangguk dan menunjukkan wajah bahagiaku.
Semenjak itu, aku bersahabat baik dengan Christof dan Eline mengerti hal itu. “Rad, kamu tau nggak? Sebenernya, aku nggak ada rasa apa-apa sama Eline! Aku masih sayang kamu” kata Christof saat bertemu denganku di Café Hotspit, sambil melirikku, perlahan-lahan aku menuliskan sebuah kalimat di sehelai tissue dan ku sodorkan padanya “Aku ngerti Chris, tapi cinta nggak harus memiliki”, dia tersenyum membaca kalimatku, dia mengangguk sekali dan membalas kalimatku di sehelai tissue lain “Jodoh nggak akan kemana”.

When You Love Someone

I love you but it’s not so easy
To make you here with me
I wanna touch and hold you forever
But you’re still in my dream
And I can’t stand to wait your love is coming to my life
But I still have a time to break a silence

When you love someone just be brave to say
That you want him to be with you
When you hold your love don’t ever let him go
Or you will loose your chance to make your dream come true

I used to hide and watch you from a distance
And i knew you realized
I was looking for a time to get closer
At least to say hello
And I can’t stand to wait your love is coming to my life

I never thought that i’m so strong
I stuck on you and wait so long
But when love comes it can’t be wrong
Don’t ever give up, just try and try to get what you want
Cause love will find the way

Dear Kamu

Udaa lamaa akuu pengen bilang ini ke kamu ..

"Makasii buad smuanya .. dan aku mohon jangan tinggalin akuu sendiri .. karna ak tanpa mu butiran debu" .. :)

About We ..


Rumor - Butiran Debu

Lagu butiran debu, pasti udh gaa asing kan buad kalian? yepp ..
lagu ituu ..
aku pertama kali suka sama lagunya Rumor karena ada seseorang yang suka banget sama lagu ini ..
seseorang yang mampu memberi arti kalo hidupku sebenernya berharga ..
(buad kamu, kalo baca blogg ini .. aku mau bilang makasii banget .. :) :* )
tapii, aku aja yang slalu negatif thinking sama idupku sendiri ..
liriknya yang "aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi .. aku tenggelam dalam lautan luka dalam .. aku trsesat dan tak tauu arah jalan pulang .. aku tanpa mu butiran debuu"
ituu cocokk bangett, sama arti hidup dia di hidupku ..
mungkin, kalo aku gaa ketemu dia sampek sekarang ..
hidupku gaa ada artinya ..
dan mungkin, kalo dia pergi dari hidupku ..
aku frustasii .. :)

Jenuhh

Kalian pernah gaa sihh kepikiran buad brenti skolah entah krn jenuhh ato punya masalah sm kkag kelas? kalo iyaa brarti kita sehati .. tp aku lebih ke arah jenuh ..
dan kayaknya, mamaku sadar soal ituu, sehingga udah beberapa kali mamaku nyinggung soal ituu ..
mama : km kayaknya tambah males skolah ya?
akuu : hmm ..
mama : brenti skolah aja ya?
aku : ..
emang sihh, dibio ku, aku nulis pingin lulus s3 .. aku punya cita-cita layaknya semua orang .. pingin jadi dosen ..
tapi masalahnya, nggak ada yg bisa bikin aku tetep bertahan buat smangat nggapai ituu smua ..
blum ada mungkin ..
aku jenuhh .. aku capek .. aku butuh seseorang yang aku sayang buat sebatas ada waktu aku nyerah, ngasii aku suport .. biar aku bisa semangat lagi ..
nggak mbiarin mimpi-mimpiku tetap menjadi sebatas mimpi ..
aku pingin ituu smua jadi kenyataan ..
jadi sesuatu yang mampu bikin orang yang aku sayang bangga ..
bisa memandang aku .. 

Kamis, 12 April 2012

Bolehkah aku menantimu?


“Kita!” panggil Diva dari kejauhan sambil mengejar sang pemilik nama, Kita segera mencari-cari sosok yang tadi menyebut namanya dengan wajah pucatnya “Iya?” jawab Kita lemas “Kamu sakit? Pulang sama aku aja yuk! Aku nggak mau kamu kenapa-napa! Sekarang juga lagi hujan ..” ajak Diva sambil memegang kening Kita “Nggak apa-apa Va .. Kamu tenang aja!” jawab Kita sambil mencoba tersenyum untuk melegakan hati sahabatnya “Beneran?” tanya Diva, Kita hanya mengangguk tak berdaya “Kita! Serius aku nggak mau kamu kenapa-kenapa! Bareng aku aja ya?” ajak Diva sekali lagi “Nggak usah Diva!” jawab Kita sambil menggeleng “Serius kamu?” selidik Diva “Muka kamu udah pucat benget” “Serius, aku nggak apa-apa! Udah sana pulang!” jawab Kita sambil mendorong tubuh Diva menjauh “Ya udah ya? awas sampai kamu kenapa-kenapa” kata Diva diikuti lambaian dari Kita. Akhir-akhir ini memang cuaca tak menentu, kadang cerah, kadang berawan atau kadang hujan seperti hari ini. Kita terus berjalan, menerobos hujan yang tak tahu kapan akan berhenti, walaupun dia tahu keadaan tubuhnya sangat lemah saat ini. Tiba-tiba BRUKK, Kita jatuh terduduk, sambil memegang kepalanya yang terasa berat, ia mencoba untuk bangkit berdiri, namun apa daya tubuhnya tak kuat dan kembali ia terjatuh. Samar-samar, terlihat sosok seorang laki-laki berlari ke arahnya, dia menyampirkan jaket yang dia kenakan ke tubuh gadis yang tergeletak tak berdaya itu, lalu semuanya terasa gelap di mata Kita ..
“Kamu udah nggak apa-apa?” terdengar suara laki-laki yang tak dikenalnya, Kita mencoba mengenali suara itu, namun kepalanya masih terasa berkunang-kunang “Masih pusing ya?” tanya suara itu lagi “Aku dimana sih?” tanya Kita setelah pandangannya terasa jelas “Kamu di rumah aku” jawab laki-laki itu “Nah kamu siapa?” tanya Kita lagi “Aku Kelvin, kamu siapa?” tanya Kelvin sambil menjabat tangan Kita “Ohh Kelvin? Aku Kita” jawab Kita sambil tersenyum, memamerkan lesung pipitnya “Kita? Nama mu lucu juga” kata Kelvin sambil menyodorkan segelas teh hangat “Haha, makasih” balas Kita sambil menerima segelas teh hangat dari tangan Kelvin.
“Aku mau pulang” celetuk Kita tiba-tiba, ketika jam di kamar Kelvin menujukkan pukul 9 malam “Kamu yakin?” tanya Kelvin “Kamu masih lemas banget” “Nggak apa-apa! Orang tuaku pasti khawatir!” jawab Kita sambil mencoba bangun dari tempat tidur “Biar aku yang antar” ajak Kelvin sambil memberikan jaket kesayangannya pada Kita “Nggak usah, aku bisa pulang sendiri” balas Kita menolak “Sekarang udah jam 9 malam! Kamu sakit! Jadi aku harus mengantar kamu!” protes Kelvin. Akhirnya Kita menurut saja diantar Kelvin hingga sampai di depan pintu rumahnya “Thanks ya Vin” kata Kita ketika Kita hendak membuka pintu rumah “Mau mampir dulu?” “Nggak usah Ta, kapan-kapan aja! Aku duluan ya!” jawab Kelvin sambil cepat-cepat berlari ke arah mobilnya, menghindari hujan yang terus mengguyur. Kita hanya tersenyum melihat tingkah Kelvin yang berlari-lari kecil menghindari hujan itu, “Kelvin” desahnya pelan, namun yang punya nama sudah pergi meninggalkan Kita bersama sejuta bayangnya.
Malam sudah menunjukkan pukul 12, tapi mata Kita masih belum bisa terpejam. Bayangan Kelvin terus bergelayut di benaknya, “Kelvin” bisiknya sambil tersenyum ceria “Aku suka kamu? Tapi, aku nggak yakin! Mungkin hanya sebatas suka biasa” “Kamu yakin itu hanya sebatas suka biasa?” tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang sudah tak asing lagi baginya dan suara itu adalah milik “Kelvin!” jeritnya kegirangan, sayang semua itu hanya halusinasi Kita. Tak ada sosok Kelvin yang menjawab semua pertanyaan di benaknya, tak ada senyum Kelvin yang menemaninya “Ahh udahlahh! Good night Kelvin” kata Kita lalu memejamkan matanya erat-erat.
“Kelvin?” panggil Kita, tak percaya dengan apa yang dilihatnya sepulang sekolah, Kelvin hanya tersenyum melihat Kita “Kamu ngapain di sini? Masuk yuk!” Kelvin segera mengikuti langkah mungil Kita, lalu duduk di salah satu sofa yang tersedia di ruang tamu rumah Kita “Kamu ngapain di sini?” ulang Kita sambil duduk menjajari Kelvin “Aku mau pamit sama kamu Ta!” jawab Kelvin “Kamu mau kemana?” tanya Kita, terdengar nada kaget dari suaranya “Aku mau pindah sekolah di Melbourne!” jawab Kelvin “Kenapa?” tanya Kita lagi, lemas “Dari dulu, emang cita-cita aku sekolah di Melbourne” balas Kelvin sambil meminum es jeruk yang telah disediakan  mbok Sum, pembantu rumah tangga Kita. Kita diam sejenak, air matanya hampir meleleh mendengar ucapan laki-laki yang mampu membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama ini “tapi kamu tenang aja! Kita pasti bisa ketemu lagi kok” kata Kelvin seakan bisa melihat kegelisahan di benak Kita, Kita hanya mengangguk sambil berusaha membendung air matanya “Kapan kamu berangkat?” tanya Kita tiba-tiba, setelah lama dia diam membisu “Jam 5 sore ..” jawab Kelvin “Ya udah, aku pulang ya? nanti kamu datang kan ke airport?” Kita hanya mengangguk sembari menatap dalam-dalam mata biru Kelvin. Kelvin segera berlalu dari hadapan Kita tanpa mengetahui kesedihan yang tergambar jelas di hati Kita.
“Kita” teriak Kelvin, ketika melihat Kita sedang kebingungan mencari-cari dirinya di antara para penumpang yang akan menuju Melbourne, Kita segera berlari menemui Kelvin “Belum berangkat?” tanya Kita sambil melihat tiket pesawat Kelvin “Sebentar lagi” jawab Kelvin memperhatikan Kita, tiba-tiba terdengar suara reseptionis memanggil para penumpang yang akan menuju Melbourne, karena pesawat sebentar lagi akan lepas landas “Bye Ta” teriak Kelvin sambil melambaikan tangannya, Kita hanya tersenyum sambil membalas lambaian Kelvin, dia sudah tak mampu lagi membendung air matanya, tiba-tiba Kelvin kembali ke hadapan Kita, dia merengkuh tubuh mungil Kita “Jaga dirimu baik-baik! Aku nggak akan pernah lupain kamu!”, Kita hanya mengangguk sambil mencoba untuk tersenyum. Lagu “Ku Tetap Menanti”, senantiasa menemani langkah Kita meninggalkan airport sore itu, ditemani air mata yang masih terus mengalir di pipinya, “Ku tetap menanti, meski harus penantian panjang .. Ku akan tetap setia menunggumu ku tahu kau hanya untukku .. Biarlah waktuku, habis oleh penantian ini .. hingga kau percaya betapa besar .. Cintaku padamu .. Ku tetap menanti ..” bisiknya lirih sambil mencoba tersenyum melepas kepergian Kelvin.

Dan Ternyata


“Pukul 06.30” tunjuk jarum jam di meja belajarku “WHHAATT??!!” teriakku histeris “Akuu telatt” aku segera berlari menuju kamar mandi dan dalam waktu 2 menit, aku sudah berpakaian rapi, sedangkan di lantai bawah ayahku berteriak-teriak memanggil namaku “Haaannnaaa” “Iya pa!” jawabku sambil mengambil buku-buku yang ku perlukan hari ini “Ayo cepat! Masak baru masuk sekolah pertama kali udah telat?!” kali ini ibuku yang berteriak, aku hanya diam sambil cepat-cepat mempersiapkan segalanya dan melesat ke bawah, bagai batman yang terbang secara terburu-buru “I’m ready pa!” kataku sambil tersenyum bangga “Ayo cepet ke mobil! Udah jam berapa ini!” teriak ayahku sambil berjalan menuju mobil, “Oh iya yaa..” kataku sembari ku lirik jam di tanganku, aku baru sadar bahwa bel akan berbunyi 10 menit lagi “10 MENIITT LAGII” teriakku lagi dan menghambur masuk ke mobil “Dahh mama” kataku dari dalam mobil.
Yah, di sini lah aku sekarang “SMP Taruna” jelas papan reklame di luar gedung sekolah ini “Fiuuhh” ku hembuskan nafas antara lega dan malas memasuki sekolah baruku, tiba-tiba “TOTT” bel sekolah ini “KERASS BANGGETTT” kata batinku, bahkan mungkin Barrack Obama bisa mendengar suara bel masuk SMP Taruna dari Amerika sana. Aku berlari menuju kelas 3 IPA 1, ternyata di sana bu Ririn, wali kelasku sekarang, sudah menantiku, untuk memperkenalkan diriku pada teman-teman baruku “Anak-anak, ada teman baru di kelas kita. Namanya Hanna, Hana Jovina” kata bu Ririn sambil tersenyum mannniiisss sekali padaku “Kamu bisa duduk di sebelahnya Diksa” Diksa? Yang mana itu, aku celingak-celiguk mencari yang namanya “Diksa”, akhirnya seorang laki-laki bertubuh tinggi dan pastinya ‘cakep’ melambai ke arahku, aku segera berjalan ke arahnya dan duduk di sampingnya, Diksa segera menyodorkan tangannya “Diksa” ucapnya sambil tersenyum “Hanna” balasku sambil tersenyum malu-malu, aku mengikuti pelajaran dengan baik, mungkin karena dampingan Diksa dan aku memberi gelar padanya ‘cowok baik’.
Saat istirahat pun tiba, inilah saat yang paling menyenangkan buatku karena pelajaran hari ini bikin aku pingin bunuh diri, aku segera berlari menuju kantin, tapi langkahku terhenti ketika ada seseorang yang memegang lenganku “Mau ke kantin?” tanya cowok itu “Iyaa” jawabku sambil tersenyum malu-malu ‘lagi’ padanya “Bareng yuk? Aku juga mau ke kantin” kata Diksa tanpa melepaskan tangannya dari tanganku. Akhirnya kita pergi ke kantin berdua, aku mulai mengeluarkan novel favoritku dan Diksa mengeluarkan laptopnya, beberapa detik kemudian, kami berdua hanyut dalam dunia masing-masing. Saat tengah asik menikmati alunan cerita dalam novelku, tiba-tiba bel kembali berbunyi, aku langsung tersentak kaget, begitu pun Diksa “kamu kenapa?” tanya Diksa cemas ketika melihat nafasku terengah-engah “cuma kaget” jawabku sambil berusaha mengatur detak jantungku “kaget karena?” tanyanya lagi “karena bel sekolahmu ini!” jawabku sambil menatapnya lurus, alhasil Diksa tertawa terbahak-bahak mendengar jawabanku “emang sih keras banget! Lama-lama kamu juga bakal terbiasa” kata Diksa di sela tawanya, aku hanya mengangguk kesal melihat Diksa tertawa seperti itu.
 “Kamu pulang sama siapa?” bisik Diksa saat pak Gordi  menerangkan pelajaran bahasa Inggrisnya “sama papa” jawabku tak kalah pelan “uhmm” desahnya pelan sambil mengangguk mengerti “emang kenapa?” tanyaku sambil terus fokus pada penjelasan pak Gordi “bisa temenin aku latihan basket nggak?” pintanya balas bertanya “jam berapa?” kataku masih terus bertanya “pulang sekolah” jawabnya singkat “oke!” balasku sambil tersenyum padanya.
Pulang sekolah, sesuai janjiku dengan Diksa, aku menemaninya latihan basket. Dia melemparkan bolanya ke ring dan masuk dengan mulusnya, ketika tengah asik memperhatikan Diksa bermain basket, tanpa ku sadari, tasku terbang dengan indahnya dan masuk dengan mulusnya ke ring “Taskuu!!” pekik ku tajam setelah sadar, dan sayangnya tasku berhasil nyangkut di tengah ring, Diksa bukannya menolong aku, dia malah tertawa puas berhasil membuatku marah bahkan menangis, aku berlari ke arahnya dan merebut bola basket dari tangan Diksa yang masih terus tertawa, lalu melemparkannya dan tepat mengenai kepala Diksa. Diksa terhuyung-huyung lemas dan tergeletak tak berdaya. Keadaan Diksa yang seperti ini, tidak berhasil membuatku tersungkur untuk merasa iba padanya, malah membuatku tertawa puas, sanggaaattt puuuaaass malah!! Semenjak itu, pertarungan sengit terjadi di antara aku dan Diksa, tidak ada yang mau menyerah, alasannya yang pasti ‘jaga image’. Makin hari, aku makin nggak betah sekolah di SMP Taruna, ada Diksa sihh .. setiap hari, ada aja idenya buat ngerjain aku, dan tentunya, aku juga nggak kehabisan ide buat mbalasnya, gelar ‘cowok baik’ berhasil ku cabut dari dirinya. Setelah sekian lama perang itu terjadi, aku sudah mulai nggak kuat dengan ide-ide Diksa yang mulai ‘KETERLALUAN’, emosi mulai memuncak di kepalaku dan “BYOORR” es coklat pesananku ku biarkan mengalir deras membasahi dirinya dari ujung kepala hingga ujung kaki, salahnya berani-beraninya dia mempermalukan aku di depan genknya, Diksa nggak terima dan dia  berdiri dari tempat duduknya “maksud loe apa hah?!” “Gue yang mesti tanya! Maksud loe apa?” aku yang nggak biasa pakek kata loe-gue, terpaksa memakainya, kepalaku udah berdenyut-denyut saking emosinya, Diksa hanya diam terpaku menatap mataku marah “loe?!” katanya sambil menunjuk diriku, setelah itu, dia pergi meninggalkanku, tak hanya Diksa malah, seluruh anggota genknya juga pergi meninggalkanku, mengikuti jejak Diksa menuju toilet untuk mengganti seragamnya.
Hari ini, berbeda dengan hari biasanya. Diksa lebih memilih diam dari pada merespon tingkahku untuk ngerjain dia “Kamu kenapa Sa?” tanyaku, khawatir juga melihat perubahan tingkah laku Diksa padaku, tak ada jawaban dari Diksa, dia hanya melirikku tajam tanpa mengucapkan sepatah kata pun “Heii?” panggilku lagi, Diksa melirikku lagi “kamu kenapa?” tanyaku “kamu sakit?” Diksa lalu menelungkupkan kepalanya sebagai respon atas pertanyaanku, rasa khawatirku mulai menjadi-jadi melanda pikiranku “aku mau pindah ke Sydney” katanya pelan, tapi cukup jelas untuk didengar “Why?” tanyaku tak percaya “I must follow my dad, move to the Sydney because of his job” jawabnya resah “kamu tauu nggak? Kenapa aku suka ngerjain kamu?” “Kenapa?” tanyaku tak mengerti “soalnya, cuma kamu yang berani mbales akuu, yang lain takut aku njauhin mereka, mereka takut kehilangan uangku!” jawabnya emosi “kamu lihat Radit, Dika, Aditya! Mereka mau temenan sama aku karena uang” “Masak sih?” tanyaku shock, memang sih, Diksa ituu orang terkaya nomer 1 di sekolahku “Iyaa, makanya, aku senang karena ada orang yang memandang aku nggak karena UANG kayak kamu” kata Diksa melanjutkan pernyataannya, sambil menekankan kata uang dalam kalimatnya “kapan kamu berangkat?” tanyaku di sela kebisuanku “hari ini, jam 3 sore” jawabnya di sela tangisnya “aku bakal dateng buat kamu!” kataku tegas, Diksa tersenyum mendengar kata-kataku, senyum ituu, kembali muncul menghias wajahnya, bahkan lebih manis dari sebelumnya.
Jam di bandara sudah menunjukkan pukul 14.45, tapi aku tak melihat tanda-tanda kehadiran Diksa, setelah beberapa saat, aku merasa ada yang menepuk bahuku, aku segera membalikkan badan dan ku lihat Diksa dengan senyum merekah di wajahnya, dapat ku lihat kesedihan di wajahnya yang ‘cakep’ itu “jangan sedih Sa” kataku sambil menyentuh bahunya, Diksa hanya tersenyum dan tiba-tiba air mata mulai membasahi pipinya “aku bakal kangen ngganggu kamu Han” kata Diksa “Udah saatnya” kataku sambil membendung air mataku, ternyata berat juga rasanya kehilangan orang seperti Diksa “Yeah” jawabnya pasrah “Aku pergi ya? bye Han” aku melambaikan tangan dan air mataku langsung menetes tanpa aba-aba, Diksa membalikkan tubuhnya dan berlari ke arahku, setelah mengatakan sesuatu pada ayah dan ibunya, Diksa memeluk tubuhku erat sekali, air mataku berhasil membasahi bahunya “Jangan nangis Han” pinta Diksa menenangkanku, aku mengangguk sekali “Kamu bakal balik kan?” tanyaku “Pasti” jawabnya sambil menghapus air mata di pipiku, dia melambaikan tangannya sekali lagi sambil berjalan menjauhiku, dan beberapa menit kemudian, pesawat yang membawa Diksa pergi dari bandara.
Well, nggak kerasa udah 2 tahun aku nggak pernah ketemu Diksa dan nggak tau gimana keadaannya sekarang. Yahh mungkin dia udah lupa sama aku, hari-hariku sepi nggak ada dia. “Kak” sapa adik kelasku sambil tersenyum “Iya?” jawabku “Ada yang nunggu kakak di lapangan basket” katanya sambil menunjuk lapangan basket “siapa?” tanyaku sambil meyipitkan mata mencari-cari sosok yang sedang menungguku “Nggak tauu kak” jawabnya sambil tersenyum puas sekali “Makasih ya” kata ku sambil berlalu dari hadapannya “Sama-sama kak” balasnya lagi. Aku segera berlari menuju lapangan basket, rasa penasaran melanda otakku, di sana terlihat sosok tinggi yang terlihat sedang menungguku “dia kembali” bisikku tak percaya, senyumnya terlihat indah menghias wajahnya, kulitnya bagai berlian, matanya dan rambutnya berubah warna menjadi kecoklatan tertimpa sinar matahari “Diksaa” teriakku sambil berlari menghampirinya, dia memelukku, pelukannya masih terasa seperti dulu, aku tersenyum bahagia, akhirnya sosok ini kembali menemuiku, sosok yang selama 2 tahun aku tunggu-tunggu kehadirannya “Heii” katanya masih sambil memelukku “Gimana kabarmu?” “Lumayan!” jawabku “Lumayan?” tanyanya sambil menarik tubuhku menjauhinya “Sepii, nggak ada kamuu Sa” jawabku sambil menariknya lagi ke dalam pelukanku “Haha, aku juga ngrasa gitu di sana” balasnya sambil tertawa “Sa?” panggilku “Hmm?” jawabnya “Kamu nanti balik ke Sydney lagi?” tanyaku, terdengar nada gelisah dari suaraku “Nggak” jawabnya singkat, namun jawaban itu mampu membuatku lega “Jangan tinggalin aku lagi Sa” teriakku sambil menjitak kepalanya “Nggak akan” pinta Diksa sambil tersenyum.