"When no body understand ,
here I write everything I feel ..
here I scream ..
here I tell everything ..
and here I can speak from the deepest of my heart ..
"

Kamis, 12 April 2012

Dan Ternyata


“Pukul 06.30” tunjuk jarum jam di meja belajarku “WHHAATT??!!” teriakku histeris “Akuu telatt” aku segera berlari menuju kamar mandi dan dalam waktu 2 menit, aku sudah berpakaian rapi, sedangkan di lantai bawah ayahku berteriak-teriak memanggil namaku “Haaannnaaa” “Iya pa!” jawabku sambil mengambil buku-buku yang ku perlukan hari ini “Ayo cepat! Masak baru masuk sekolah pertama kali udah telat?!” kali ini ibuku yang berteriak, aku hanya diam sambil cepat-cepat mempersiapkan segalanya dan melesat ke bawah, bagai batman yang terbang secara terburu-buru “I’m ready pa!” kataku sambil tersenyum bangga “Ayo cepet ke mobil! Udah jam berapa ini!” teriak ayahku sambil berjalan menuju mobil, “Oh iya yaa..” kataku sembari ku lirik jam di tanganku, aku baru sadar bahwa bel akan berbunyi 10 menit lagi “10 MENIITT LAGII” teriakku lagi dan menghambur masuk ke mobil “Dahh mama” kataku dari dalam mobil.
Yah, di sini lah aku sekarang “SMP Taruna” jelas papan reklame di luar gedung sekolah ini “Fiuuhh” ku hembuskan nafas antara lega dan malas memasuki sekolah baruku, tiba-tiba “TOTT” bel sekolah ini “KERASS BANGGETTT” kata batinku, bahkan mungkin Barrack Obama bisa mendengar suara bel masuk SMP Taruna dari Amerika sana. Aku berlari menuju kelas 3 IPA 1, ternyata di sana bu Ririn, wali kelasku sekarang, sudah menantiku, untuk memperkenalkan diriku pada teman-teman baruku “Anak-anak, ada teman baru di kelas kita. Namanya Hanna, Hana Jovina” kata bu Ririn sambil tersenyum mannniiisss sekali padaku “Kamu bisa duduk di sebelahnya Diksa” Diksa? Yang mana itu, aku celingak-celiguk mencari yang namanya “Diksa”, akhirnya seorang laki-laki bertubuh tinggi dan pastinya ‘cakep’ melambai ke arahku, aku segera berjalan ke arahnya dan duduk di sampingnya, Diksa segera menyodorkan tangannya “Diksa” ucapnya sambil tersenyum “Hanna” balasku sambil tersenyum malu-malu, aku mengikuti pelajaran dengan baik, mungkin karena dampingan Diksa dan aku memberi gelar padanya ‘cowok baik’.
Saat istirahat pun tiba, inilah saat yang paling menyenangkan buatku karena pelajaran hari ini bikin aku pingin bunuh diri, aku segera berlari menuju kantin, tapi langkahku terhenti ketika ada seseorang yang memegang lenganku “Mau ke kantin?” tanya cowok itu “Iyaa” jawabku sambil tersenyum malu-malu ‘lagi’ padanya “Bareng yuk? Aku juga mau ke kantin” kata Diksa tanpa melepaskan tangannya dari tanganku. Akhirnya kita pergi ke kantin berdua, aku mulai mengeluarkan novel favoritku dan Diksa mengeluarkan laptopnya, beberapa detik kemudian, kami berdua hanyut dalam dunia masing-masing. Saat tengah asik menikmati alunan cerita dalam novelku, tiba-tiba bel kembali berbunyi, aku langsung tersentak kaget, begitu pun Diksa “kamu kenapa?” tanya Diksa cemas ketika melihat nafasku terengah-engah “cuma kaget” jawabku sambil berusaha mengatur detak jantungku “kaget karena?” tanyanya lagi “karena bel sekolahmu ini!” jawabku sambil menatapnya lurus, alhasil Diksa tertawa terbahak-bahak mendengar jawabanku “emang sih keras banget! Lama-lama kamu juga bakal terbiasa” kata Diksa di sela tawanya, aku hanya mengangguk kesal melihat Diksa tertawa seperti itu.
 “Kamu pulang sama siapa?” bisik Diksa saat pak Gordi  menerangkan pelajaran bahasa Inggrisnya “sama papa” jawabku tak kalah pelan “uhmm” desahnya pelan sambil mengangguk mengerti “emang kenapa?” tanyaku sambil terus fokus pada penjelasan pak Gordi “bisa temenin aku latihan basket nggak?” pintanya balas bertanya “jam berapa?” kataku masih terus bertanya “pulang sekolah” jawabnya singkat “oke!” balasku sambil tersenyum padanya.
Pulang sekolah, sesuai janjiku dengan Diksa, aku menemaninya latihan basket. Dia melemparkan bolanya ke ring dan masuk dengan mulusnya, ketika tengah asik memperhatikan Diksa bermain basket, tanpa ku sadari, tasku terbang dengan indahnya dan masuk dengan mulusnya ke ring “Taskuu!!” pekik ku tajam setelah sadar, dan sayangnya tasku berhasil nyangkut di tengah ring, Diksa bukannya menolong aku, dia malah tertawa puas berhasil membuatku marah bahkan menangis, aku berlari ke arahnya dan merebut bola basket dari tangan Diksa yang masih terus tertawa, lalu melemparkannya dan tepat mengenai kepala Diksa. Diksa terhuyung-huyung lemas dan tergeletak tak berdaya. Keadaan Diksa yang seperti ini, tidak berhasil membuatku tersungkur untuk merasa iba padanya, malah membuatku tertawa puas, sanggaaattt puuuaaass malah!! Semenjak itu, pertarungan sengit terjadi di antara aku dan Diksa, tidak ada yang mau menyerah, alasannya yang pasti ‘jaga image’. Makin hari, aku makin nggak betah sekolah di SMP Taruna, ada Diksa sihh .. setiap hari, ada aja idenya buat ngerjain aku, dan tentunya, aku juga nggak kehabisan ide buat mbalasnya, gelar ‘cowok baik’ berhasil ku cabut dari dirinya. Setelah sekian lama perang itu terjadi, aku sudah mulai nggak kuat dengan ide-ide Diksa yang mulai ‘KETERLALUAN’, emosi mulai memuncak di kepalaku dan “BYOORR” es coklat pesananku ku biarkan mengalir deras membasahi dirinya dari ujung kepala hingga ujung kaki, salahnya berani-beraninya dia mempermalukan aku di depan genknya, Diksa nggak terima dan dia  berdiri dari tempat duduknya “maksud loe apa hah?!” “Gue yang mesti tanya! Maksud loe apa?” aku yang nggak biasa pakek kata loe-gue, terpaksa memakainya, kepalaku udah berdenyut-denyut saking emosinya, Diksa hanya diam terpaku menatap mataku marah “loe?!” katanya sambil menunjuk diriku, setelah itu, dia pergi meninggalkanku, tak hanya Diksa malah, seluruh anggota genknya juga pergi meninggalkanku, mengikuti jejak Diksa menuju toilet untuk mengganti seragamnya.
Hari ini, berbeda dengan hari biasanya. Diksa lebih memilih diam dari pada merespon tingkahku untuk ngerjain dia “Kamu kenapa Sa?” tanyaku, khawatir juga melihat perubahan tingkah laku Diksa padaku, tak ada jawaban dari Diksa, dia hanya melirikku tajam tanpa mengucapkan sepatah kata pun “Heii?” panggilku lagi, Diksa melirikku lagi “kamu kenapa?” tanyaku “kamu sakit?” Diksa lalu menelungkupkan kepalanya sebagai respon atas pertanyaanku, rasa khawatirku mulai menjadi-jadi melanda pikiranku “aku mau pindah ke Sydney” katanya pelan, tapi cukup jelas untuk didengar “Why?” tanyaku tak percaya “I must follow my dad, move to the Sydney because of his job” jawabnya resah “kamu tauu nggak? Kenapa aku suka ngerjain kamu?” “Kenapa?” tanyaku tak mengerti “soalnya, cuma kamu yang berani mbales akuu, yang lain takut aku njauhin mereka, mereka takut kehilangan uangku!” jawabnya emosi “kamu lihat Radit, Dika, Aditya! Mereka mau temenan sama aku karena uang” “Masak sih?” tanyaku shock, memang sih, Diksa ituu orang terkaya nomer 1 di sekolahku “Iyaa, makanya, aku senang karena ada orang yang memandang aku nggak karena UANG kayak kamu” kata Diksa melanjutkan pernyataannya, sambil menekankan kata uang dalam kalimatnya “kapan kamu berangkat?” tanyaku di sela kebisuanku “hari ini, jam 3 sore” jawabnya di sela tangisnya “aku bakal dateng buat kamu!” kataku tegas, Diksa tersenyum mendengar kata-kataku, senyum ituu, kembali muncul menghias wajahnya, bahkan lebih manis dari sebelumnya.
Jam di bandara sudah menunjukkan pukul 14.45, tapi aku tak melihat tanda-tanda kehadiran Diksa, setelah beberapa saat, aku merasa ada yang menepuk bahuku, aku segera membalikkan badan dan ku lihat Diksa dengan senyum merekah di wajahnya, dapat ku lihat kesedihan di wajahnya yang ‘cakep’ itu “jangan sedih Sa” kataku sambil menyentuh bahunya, Diksa hanya tersenyum dan tiba-tiba air mata mulai membasahi pipinya “aku bakal kangen ngganggu kamu Han” kata Diksa “Udah saatnya” kataku sambil membendung air mataku, ternyata berat juga rasanya kehilangan orang seperti Diksa “Yeah” jawabnya pasrah “Aku pergi ya? bye Han” aku melambaikan tangan dan air mataku langsung menetes tanpa aba-aba, Diksa membalikkan tubuhnya dan berlari ke arahku, setelah mengatakan sesuatu pada ayah dan ibunya, Diksa memeluk tubuhku erat sekali, air mataku berhasil membasahi bahunya “Jangan nangis Han” pinta Diksa menenangkanku, aku mengangguk sekali “Kamu bakal balik kan?” tanyaku “Pasti” jawabnya sambil menghapus air mata di pipiku, dia melambaikan tangannya sekali lagi sambil berjalan menjauhiku, dan beberapa menit kemudian, pesawat yang membawa Diksa pergi dari bandara.
Well, nggak kerasa udah 2 tahun aku nggak pernah ketemu Diksa dan nggak tau gimana keadaannya sekarang. Yahh mungkin dia udah lupa sama aku, hari-hariku sepi nggak ada dia. “Kak” sapa adik kelasku sambil tersenyum “Iya?” jawabku “Ada yang nunggu kakak di lapangan basket” katanya sambil menunjuk lapangan basket “siapa?” tanyaku sambil meyipitkan mata mencari-cari sosok yang sedang menungguku “Nggak tauu kak” jawabnya sambil tersenyum puas sekali “Makasih ya” kata ku sambil berlalu dari hadapannya “Sama-sama kak” balasnya lagi. Aku segera berlari menuju lapangan basket, rasa penasaran melanda otakku, di sana terlihat sosok tinggi yang terlihat sedang menungguku “dia kembali” bisikku tak percaya, senyumnya terlihat indah menghias wajahnya, kulitnya bagai berlian, matanya dan rambutnya berubah warna menjadi kecoklatan tertimpa sinar matahari “Diksaa” teriakku sambil berlari menghampirinya, dia memelukku, pelukannya masih terasa seperti dulu, aku tersenyum bahagia, akhirnya sosok ini kembali menemuiku, sosok yang selama 2 tahun aku tunggu-tunggu kehadirannya “Heii” katanya masih sambil memelukku “Gimana kabarmu?” “Lumayan!” jawabku “Lumayan?” tanyanya sambil menarik tubuhku menjauhinya “Sepii, nggak ada kamuu Sa” jawabku sambil menariknya lagi ke dalam pelukanku “Haha, aku juga ngrasa gitu di sana” balasnya sambil tertawa “Sa?” panggilku “Hmm?” jawabnya “Kamu nanti balik ke Sydney lagi?” tanyaku, terdengar nada gelisah dari suaraku “Nggak” jawabnya singkat, namun jawaban itu mampu membuatku lega “Jangan tinggalin aku lagi Sa” teriakku sambil menjitak kepalanya “Nggak akan” pinta Diksa sambil tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar