“Pukul 06.30”
tunjuk jarum jam di meja belajarku “WHHAATT??!!” teriakku histeris “Akuu
telatt” aku segera berlari menuju kamar mandi dan dalam waktu 2 menit, aku
sudah berpakaian rapi, sedangkan di lantai bawah ayahku berteriak-teriak
memanggil namaku “Haaannnaaa” “Iya pa!” jawabku sambil mengambil buku-buku yang
ku perlukan hari ini “Ayo cepat! Masak baru masuk sekolah pertama kali udah
telat?!” kali ini ibuku yang berteriak, aku hanya diam sambil cepat-cepat
mempersiapkan segalanya dan melesat ke bawah, bagai batman yang terbang secara
terburu-buru “I’m ready pa!” kataku sambil tersenyum bangga “Ayo cepet ke
mobil! Udah jam berapa ini!” teriak ayahku sambil berjalan menuju mobil, “Oh
iya yaa..” kataku sembari ku lirik jam di tanganku, aku baru sadar bahwa bel
akan berbunyi 10 menit lagi “10 MENIITT LAGII” teriakku lagi dan menghambur
masuk ke mobil “Dahh mama” kataku dari dalam mobil.
Yah, di sini lah
aku sekarang “SMP Taruna” jelas papan reklame di luar gedung sekolah ini
“Fiuuhh” ku hembuskan nafas antara lega dan malas memasuki sekolah baruku,
tiba-tiba “TOTT” bel sekolah ini “KERASS BANGGETTT” kata batinku, bahkan
mungkin Barrack Obama bisa mendengar suara bel masuk SMP Taruna dari Amerika
sana. Aku berlari menuju kelas 3 IPA 1, ternyata di sana bu Ririn, wali kelasku
sekarang, sudah menantiku, untuk memperkenalkan diriku pada teman-teman baruku
“Anak-anak, ada teman baru di kelas kita. Namanya Hanna, Hana Jovina” kata bu
Ririn sambil tersenyum mannniiisss sekali padaku “Kamu bisa duduk di sebelahnya
Diksa” Diksa? Yang mana itu, aku celingak-celiguk mencari yang namanya “Diksa”,
akhirnya seorang laki-laki bertubuh tinggi dan pastinya ‘cakep’ melambai ke
arahku, aku segera berjalan ke arahnya dan duduk di sampingnya, Diksa segera
menyodorkan tangannya “Diksa” ucapnya sambil tersenyum “Hanna” balasku sambil
tersenyum malu-malu, aku mengikuti pelajaran dengan baik, mungkin karena
dampingan Diksa dan aku memberi gelar padanya ‘cowok baik’.
Saat istirahat
pun tiba, inilah saat yang paling menyenangkan buatku karena pelajaran hari ini
bikin aku pingin bunuh diri, aku segera berlari menuju kantin, tapi langkahku
terhenti ketika ada seseorang yang memegang lenganku “Mau ke kantin?” tanya
cowok itu “Iyaa” jawabku sambil tersenyum malu-malu ‘lagi’ padanya “Bareng yuk?
Aku juga mau ke kantin” kata Diksa tanpa melepaskan tangannya dari tanganku.
Akhirnya kita pergi ke kantin berdua, aku mulai mengeluarkan novel favoritku
dan Diksa mengeluarkan laptopnya, beberapa detik kemudian, kami berdua hanyut
dalam dunia masing-masing. Saat tengah asik menikmati alunan cerita dalam
novelku, tiba-tiba bel kembali berbunyi, aku langsung tersentak kaget, begitu
pun Diksa “kamu kenapa?” tanya Diksa cemas ketika melihat nafasku
terengah-engah “cuma kaget” jawabku sambil berusaha mengatur detak jantungku
“kaget karena?” tanyanya lagi “karena bel sekolahmu ini!” jawabku sambil
menatapnya lurus, alhasil Diksa tertawa terbahak-bahak mendengar jawabanku
“emang sih keras banget! Lama-lama kamu juga bakal terbiasa” kata Diksa di sela
tawanya, aku hanya mengangguk kesal melihat Diksa tertawa seperti itu.
“Kamu pulang sama siapa?” bisik Diksa saat pak
Gordi menerangkan pelajaran bahasa
Inggrisnya “sama papa” jawabku tak kalah pelan “uhmm” desahnya pelan sambil
mengangguk mengerti “emang kenapa?” tanyaku sambil terus fokus pada penjelasan
pak Gordi “bisa temenin aku latihan basket nggak?” pintanya balas bertanya “jam
berapa?” kataku masih terus bertanya “pulang sekolah” jawabnya singkat “oke!”
balasku sambil tersenyum padanya.
Pulang sekolah,
sesuai janjiku dengan Diksa, aku menemaninya latihan basket. Dia melemparkan
bolanya ke ring dan masuk dengan mulusnya, ketika tengah asik memperhatikan
Diksa bermain basket, tanpa ku sadari, tasku terbang dengan indahnya dan masuk
dengan mulusnya ke ring “Taskuu!!” pekik ku tajam setelah sadar, dan sayangnya
tasku berhasil nyangkut di tengah ring, Diksa bukannya menolong aku, dia malah
tertawa puas berhasil membuatku marah bahkan menangis, aku berlari ke arahnya
dan merebut bola basket dari tangan Diksa yang masih terus tertawa, lalu
melemparkannya dan tepat mengenai kepala Diksa. Diksa terhuyung-huyung lemas
dan tergeletak tak berdaya. Keadaan Diksa yang seperti ini, tidak berhasil
membuatku tersungkur untuk merasa iba padanya, malah membuatku tertawa puas, sanggaaattt
puuuaaass malah!! Semenjak itu, pertarungan sengit terjadi di antara aku dan
Diksa, tidak ada yang mau menyerah, alasannya yang pasti ‘jaga image’. Makin
hari, aku makin nggak betah sekolah di SMP Taruna, ada Diksa sihh .. setiap
hari, ada aja idenya buat ngerjain aku, dan tentunya, aku juga nggak kehabisan
ide buat mbalasnya, gelar ‘cowok baik’ berhasil ku cabut dari dirinya. Setelah
sekian lama perang itu terjadi, aku sudah mulai nggak kuat dengan ide-ide Diksa
yang mulai ‘KETERLALUAN’, emosi mulai memuncak di kepalaku dan “BYOORR” es
coklat pesananku ku biarkan mengalir deras membasahi dirinya dari ujung kepala
hingga ujung kaki, salahnya berani-beraninya dia mempermalukan aku di depan
genknya, Diksa nggak terima dan dia
berdiri dari tempat duduknya “maksud loe apa hah?!” “Gue yang mesti
tanya! Maksud loe apa?” aku yang nggak biasa pakek kata loe-gue, terpaksa
memakainya, kepalaku udah berdenyut-denyut saking emosinya, Diksa hanya diam
terpaku menatap mataku marah “loe?!” katanya sambil menunjuk diriku, setelah
itu, dia pergi meninggalkanku, tak hanya Diksa malah, seluruh anggota genknya
juga pergi meninggalkanku, mengikuti jejak Diksa menuju toilet untuk mengganti
seragamnya.
Hari ini,
berbeda dengan hari biasanya. Diksa lebih memilih diam dari pada merespon
tingkahku untuk ngerjain dia “Kamu kenapa Sa?” tanyaku, khawatir juga melihat
perubahan tingkah laku Diksa padaku, tak ada jawaban dari Diksa, dia hanya
melirikku tajam tanpa mengucapkan sepatah kata pun “Heii?” panggilku lagi,
Diksa melirikku lagi “kamu kenapa?” tanyaku “kamu sakit?” Diksa lalu
menelungkupkan kepalanya sebagai respon atas pertanyaanku, rasa khawatirku
mulai menjadi-jadi melanda pikiranku “aku mau pindah ke Sydney” katanya pelan,
tapi cukup jelas untuk didengar “Why?” tanyaku tak percaya “I must follow my
dad, move to the Sydney because of his job” jawabnya resah “kamu tauu nggak?
Kenapa aku suka ngerjain kamu?” “Kenapa?” tanyaku tak mengerti “soalnya, cuma
kamu yang berani mbales akuu, yang lain takut aku njauhin mereka, mereka takut
kehilangan uangku!” jawabnya emosi “kamu lihat Radit, Dika, Aditya! Mereka mau
temenan sama aku karena uang” “Masak sih?” tanyaku shock, memang sih, Diksa
ituu orang terkaya nomer 1 di sekolahku “Iyaa, makanya, aku senang karena ada
orang yang memandang aku nggak karena UANG kayak kamu” kata Diksa melanjutkan
pernyataannya, sambil menekankan kata uang dalam kalimatnya “kapan kamu
berangkat?” tanyaku di sela kebisuanku “hari ini, jam 3 sore” jawabnya di sela
tangisnya “aku bakal dateng buat kamu!” kataku tegas, Diksa tersenyum mendengar
kata-kataku, senyum ituu, kembali muncul menghias wajahnya, bahkan lebih manis
dari sebelumnya.
Jam di bandara
sudah menunjukkan pukul 14.45, tapi aku tak melihat tanda-tanda kehadiran Diksa,
setelah beberapa saat, aku merasa ada yang menepuk bahuku, aku segera
membalikkan badan dan ku lihat Diksa dengan senyum merekah di wajahnya, dapat
ku lihat kesedihan di wajahnya yang ‘cakep’ itu “jangan sedih Sa” kataku sambil
menyentuh bahunya, Diksa hanya tersenyum dan tiba-tiba air mata mulai membasahi
pipinya “aku bakal kangen ngganggu kamu Han” kata Diksa “Udah saatnya” kataku
sambil membendung air mataku, ternyata berat juga rasanya kehilangan orang
seperti Diksa “Yeah” jawabnya pasrah “Aku pergi ya? bye Han” aku melambaikan
tangan dan air mataku langsung menetes tanpa aba-aba, Diksa membalikkan
tubuhnya dan berlari ke arahku, setelah mengatakan sesuatu pada ayah dan
ibunya, Diksa memeluk tubuhku erat sekali, air mataku berhasil membasahi
bahunya “Jangan nangis Han” pinta Diksa menenangkanku, aku mengangguk sekali
“Kamu bakal balik kan?” tanyaku “Pasti” jawabnya sambil menghapus air mata di
pipiku, dia melambaikan tangannya sekali lagi sambil berjalan menjauhiku, dan
beberapa menit kemudian, pesawat yang membawa Diksa pergi dari bandara.
Well, nggak
kerasa udah 2 tahun aku nggak pernah ketemu Diksa dan nggak tau gimana
keadaannya sekarang. Yahh mungkin dia udah lupa sama aku, hari-hariku sepi
nggak ada dia. “Kak” sapa adik kelasku sambil tersenyum “Iya?” jawabku “Ada
yang nunggu kakak di lapangan basket” katanya sambil menunjuk lapangan basket
“siapa?” tanyaku sambil meyipitkan mata mencari-cari sosok yang sedang
menungguku “Nggak tauu kak” jawabnya sambil tersenyum puas sekali “Makasih ya”
kata ku sambil berlalu dari hadapannya “Sama-sama kak” balasnya lagi. Aku
segera berlari menuju lapangan basket, rasa penasaran melanda otakku, di sana
terlihat sosok tinggi yang terlihat sedang menungguku “dia kembali” bisikku tak
percaya, senyumnya terlihat indah menghias wajahnya, kulitnya bagai berlian,
matanya dan rambutnya berubah warna menjadi kecoklatan tertimpa sinar matahari
“Diksaa” teriakku sambil berlari menghampirinya, dia memelukku, pelukannya
masih terasa seperti dulu, aku tersenyum bahagia, akhirnya sosok ini kembali
menemuiku, sosok yang selama 2 tahun aku tunggu-tunggu kehadirannya “Heii”
katanya masih sambil memelukku “Gimana kabarmu?” “Lumayan!” jawabku “Lumayan?”
tanyanya sambil menarik tubuhku menjauhinya “Sepii, nggak ada kamuu Sa” jawabku
sambil menariknya lagi ke dalam pelukanku “Haha, aku juga ngrasa gitu di sana”
balasnya sambil tertawa “Sa?” panggilku “Hmm?” jawabnya “Kamu nanti balik ke
Sydney lagi?” tanyaku, terdengar nada gelisah dari suaraku “Nggak” jawabnya
singkat, namun jawaban itu mampu membuatku lega “Jangan tinggalin aku lagi Sa”
teriakku sambil menjitak kepalanya “Nggak akan” pinta Diksa sambil tersenyum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar