“Radiaaa”
panggil Eline menyebut namaku, suara soprannya terdengar jelas di telingaku,
aku segera mendongak mencari-cari sosoknya, dan tanpa sadar ternyata dia sudah
berada di sampingku “What?” tanyaku sambil terus berkonsentrasi pada cerita di
laptopku “Aku suka sama Christof deh kayaknya” jawab Eline sambil menunggu
reaksiku. Deg! Jantungku serasa berhenti berdetak, itu berarti aku harus
saingan sama sahabatku sendiri buat ndapetin Christof?! “Terus?” tanyaku
mencoba tenang “Kamu bantuin aku ya?” pinta Eline memohon “Iya” jawabku ragu
“Yess!!” teriaknya girang, aku tersenyum melihat reaksinya, padahal aslinya,
jantungku udah berhenti berdetak, “Ra?” panggil Eline sambil menggoyangkan
lenganku “Kamu kenapa?” tanyanya lagi, setelah beberapa detik, aku baru sadar
bahwa Eline sedang menunggu jawabanku “Nggak apa-apa” jawabku singkat, jelas,
jawaban itu menyorotkan nada ragu di hatiku.
“Haii Radiaa”
sapa seorang cowok menggangguku melamun “Apa?!” sentakku kasar sambil mencoba
melihat siapa yang menggangguku saat ini, astaga ternyata dia CHRISTOF!! “Eh,
sorry! Kenapa Chris?” kataku mencoba meralat kata-kataku sebelumnya “Aku duduk di
sebelah kamu boleh?” tanyanya pelan “Iya” jawabku singkat, tapi hatiku
sanggaatt bahagia “Rad, aku minta nomer handphone kamu ya?” tanyanya sambil
menatap mataku “Hah? Apa Chris?” teriakku kaget “Minta nomer handphone kamu
Rad! Boleh?” ulangnya “Oke” jawabku spontan, Christof segera mengeluarkan
handphone BlackBerry dari dalam saku kaos basketnya “081233767574” kataku dan
dengan sigap, Christof mencatatnya di handphonenya “Siipp, makasih Rad” teriak
Christof “Aku tanding dulu ya?” aku hanya mengangguk untuk menanggapi
kata-katanya.
Huahh, saatnya
pulang sekolah, berarti aku harus berjalan kaki buat pulang. Aku terus
melangkah dengan lesu dan tiba-tiba “TIINN!” aku segera menoleh untuk melihat
siapa pemilik mobil itu, kaca mobil mercy hitam itu perlahan-lahan turun dan
mulai menunjukkan siapa pemilik mobil itu “Christof?” panggilku “Pulang
sendiri?” tanyanya sambil tersenyum, aku mengangguk lesu “aku antar yuk?” katanya
sambil membukakan pintu mobil untukku “Nggak usah, thanks” jawabku halus,
Christof memaksaku untuk masuk ke mobilnya, dan dengan terpaksa aku
menanggapinya, terpaksa karena takuutt kalau Eline melihat Christof berdua denganku
“Rumah kamu dimana?” tanya Christof di sela kebisuannya “Jl.Permai nomer 23”
jawabku sambil melirik wajah Christof. Perlahan-lahan namun pasti, akhirnya
sampai juga di rumah, aku tersenyum lega dan cepat-cepat turun dari mobil
“Thanks Chris” kataku sambil buru-buru masuk ke dalam rumah “Radiaa” panggilnya
menghentikan langkahku “ya?” jawabku sambil menatap matanya “besok pulang sama
aku lagi ya?” pintanya, Christof segera memasang tampang innocent “Nggak usah”
teriakku menolak “Ayolahh” pintanya lagi “Liat besok ya?” jawabku final “Oyii”
teriaknya puas sambil menginjak pedal gas. Aku segera berlari masuk ke rumah
dan ku lihat Eline sudah berada di ruang tamu tengah menungguku sambil membaca
majalah koleksiku “Eline?” panggilku kaget “Kamu tadi pulang sama siapa? Pacar
kamuu?” selidiknya “Mobilnya kayak mobilnya Christof! Atau jangan-jangan dia
emang Christof?!” “itu .. ituu bukan Christof! Nggak mungkin lahh!!” jawabku
tegang “Ohh ..” desah Eline kembali fokus pada isi majalahku, aku segera duduk
di samping Eline, mengambil sebuah majalah dan perlahan-lahan mulai hanyut.
“Handphone kamu bunyi tuh!” kata Eline mengagetkanku sambil memperhatikan
handphoneku, aku mengambilnya dan membaca nomer yang tertera di sana “Kamu tau
ini nomer siapa nggak?” tanyaku pada Eline, Eline menggeleng lemah, ku tekan
tombol ‘answer’ dan menjawab telephon itu “Hallo?” sapaku pelan “Radia?”
panggil sang penelepon “Iya, ini siapa?” tanyaku tetap pelan “Christof”
jawabnya singkat “WHHAATT?!” batinku berteriak kegirangan “Kenapa Chris?”
tanyaku sambil menjauh dari Eline “Lagi apa?” tanyanya pelan, suaranya sehalus
beledu “Lagi duduk-duduk sama Eline” jawabku “Chris, udah dulu ya?” kataku lagi
mengakhiri pembicaraan “kenapa?” tanyanya bingung, tapi segera ku tekan tombol
‘end’ “siapa sih Rad?” tanya Eline penasaran “Abangku” jawabku berbohong, Eline
mengangguk tanda mengerti.
**********************
“Haii Rad”
teriak Christof lalu langsung duduk di sebelahku “hai Chris” sapaku lembut
“Radd! Aku mau ngomong sama kamu boleh?” tanya Christof “Ngomong aja Chris”
jawabku sambil tertawa “Sebenernya, aku suka kamu!” kata Christof perlahan tapi
sanggup membuat hatiku berdisko ria. Deg .. Deg .. Deg .. “kamu mau jadi
pacarku?” lanjutnya lagi, aku tercenung sesaat, memikirkan jawaban apa yang pas
untuk saat ini “sorry Chris, aku nggak bisa!” jawabku lemas “kenapa?”
selidiknya “karena sahabatku juga suka sama kamu!” jawabku mulai membentak
“Eline?” tanya Christof, aku mengangguk
“sorry ya?”, Christof tersenyum, meski ada guratan kecewa dan sedih di
wajahnya.
***********************
“Raddiiiiiiiiiiiiaaaaaa”
panggil Eline dari kejauhan sambil berlari ke arahku “Kemarin, Christof
telephon aku!!” teriaknya histeris, aku hanya mengangguk, dadaku sesak rasanya
“dia ngajak aku pulang bareng hari ini” lanjut Eline, pikiranku melayang,
mengingat kejadian beberapa hari lalu. Aku dan Christof. Kita. Aku
menelungkupkan kepalaku, dari kejauhan Christof memperhatikan aku dan Eline,
entah dia memperhatikan aku atau Eline, aku tak peduli, yang jelas di wajahnya
tampak raut wajah khawatir. Seusai bertanding, Christof duduk menjajari aku dan
Eline “Makasih ya” bisikku pelan,
Christof memperhatikanku “Buat?” “kamu udah bikin Eline seneng” jawabku pelan
“Urwell” jawabnya sambil mengangkat bahunya “Line! Pulang yuk?” ajak Christof
“Ayoo” jawab Eline semangat “Rad, aku pulang duluan ya?” kata Christof sambil
memperhatikan guratan kesedihan di wajahku, aku mengangguk sembari melambaikan
tangan ke arah mereka berdua.
*******************
Aku menutupi wajahku dengan
sehelai selimut, saat tiba-tiba handphone ku berbunyi “Eline” desisku “Hallo?”
jawabku “Kenapa Line?” “Do you know? Aku jadian sama Christof!!”teriak Eline
histeris dan senang “Haha, selamat ya?” pintaku bahagia, padahal aslinya aku
nangis “Makasih, besok aku sama Christof mau nraktir kamu makan” jelasnya
bahagia “Oke!” jawabku dan ku matikan handphoneku, takut kalau Eline
menjelaskan semuanya, jantungku berhenti berdetak.
****************
“Nanti aku sama Christof njemput
kamu jam 7 malem! Kita makan bareng” begitu lah isi pesan dari Eline tadi pagi
dan sekarang sudah pukul 18.45, aku masih bingung harus memakai baju apa,
akhirnya ku putuskan memakai T-Shirt kuning favoritku dan dipadukan dengan
kemeja putih lalu celana jeans dan sepatu kets putihku. Suara mobil Christof
menggema hingga dalam kamarku, aku segera menuruni tangga dan menghambur masuk
ke dalam mobil Christof. Mobil melaju dengan kecepatan 50km/jam, dan sampailah
kita bertiga di restaurant favoritku dan Eline. Tampak jelas kebahagiaan di
mata Eline ketika menatap mata Christof, sedangkan aku? Perasaanku campur aduk
lah intinya. Saat aku memperhatikan Christof, tanpa sengaja Christof menatap
mataku, dia mencoba tersenyum di hadapanku, aku mengangguk dan menunjukkan
wajah bahagiaku.
Semenjak itu,
aku bersahabat baik dengan Christof dan Eline mengerti hal itu. “Rad, kamu tau
nggak? Sebenernya, aku nggak ada rasa apa-apa sama Eline! Aku masih sayang
kamu” kata Christof saat bertemu denganku di Café Hotspit, sambil melirikku,
perlahan-lahan aku menuliskan sebuah kalimat di sehelai tissue dan ku sodorkan
padanya “Aku ngerti Chris, tapi cinta nggak harus memiliki”, dia tersenyum
membaca kalimatku, dia mengangguk sekali dan membalas kalimatku di sehelai
tissue lain “Jodoh nggak akan kemana”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar