"When no body understand ,
here I write everything I feel ..
here I scream ..
here I tell everything ..
and here I can speak from the deepest of my heart ..
"

Jumat, 13 April 2012

Tak Bisa Memiliki


“Radiaaa” panggil Eline menyebut namaku, suara soprannya terdengar jelas di telingaku, aku segera mendongak mencari-cari sosoknya, dan tanpa sadar ternyata dia sudah berada di sampingku “What?” tanyaku sambil terus berkonsentrasi pada cerita di laptopku “Aku suka sama Christof deh kayaknya” jawab Eline sambil menunggu reaksiku. Deg! Jantungku serasa berhenti berdetak, itu berarti aku harus saingan sama sahabatku sendiri buat ndapetin Christof?! “Terus?” tanyaku mencoba tenang “Kamu bantuin aku ya?” pinta Eline memohon “Iya” jawabku ragu “Yess!!” teriaknya girang, aku tersenyum melihat reaksinya, padahal aslinya, jantungku udah berhenti berdetak, “Ra?” panggil Eline sambil menggoyangkan lenganku “Kamu kenapa?” tanyanya lagi, setelah beberapa detik, aku baru sadar bahwa Eline sedang menunggu jawabanku “Nggak apa-apa” jawabku singkat, jelas, jawaban itu menyorotkan nada ragu di hatiku.
“Haii Radiaa” sapa seorang cowok menggangguku melamun “Apa?!” sentakku kasar sambil mencoba melihat siapa yang menggangguku saat ini, astaga ternyata dia CHRISTOF!! “Eh, sorry! Kenapa Chris?” kataku mencoba meralat kata-kataku sebelumnya “Aku duduk di sebelah kamu boleh?” tanyanya pelan “Iya” jawabku singkat, tapi hatiku sanggaatt bahagia “Rad, aku minta nomer handphone kamu ya?” tanyanya sambil menatap mataku “Hah? Apa Chris?” teriakku kaget “Minta nomer handphone kamu Rad! Boleh?” ulangnya “Oke” jawabku spontan, Christof segera mengeluarkan handphone BlackBerry dari dalam saku kaos basketnya “081233767574” kataku dan dengan sigap, Christof mencatatnya di handphonenya “Siipp, makasih Rad” teriak Christof “Aku tanding dulu ya?” aku hanya mengangguk untuk menanggapi kata-katanya.
Huahh, saatnya pulang sekolah, berarti aku harus berjalan kaki buat pulang. Aku terus melangkah dengan lesu dan tiba-tiba “TIINN!” aku segera menoleh untuk melihat siapa pemilik mobil itu, kaca mobil mercy hitam itu perlahan-lahan turun dan mulai menunjukkan siapa pemilik mobil itu “Christof?” panggilku “Pulang sendiri?” tanyanya sambil tersenyum, aku mengangguk lesu “aku antar yuk?” katanya sambil membukakan pintu mobil untukku “Nggak usah, thanks” jawabku halus, Christof memaksaku untuk masuk ke mobilnya, dan dengan terpaksa aku menanggapinya, terpaksa karena takuutt kalau Eline melihat Christof berdua denganku “Rumah kamu dimana?” tanya Christof di sela kebisuannya “Jl.Permai nomer 23” jawabku sambil melirik wajah Christof. Perlahan-lahan namun pasti, akhirnya sampai juga di rumah, aku tersenyum lega dan cepat-cepat turun dari mobil “Thanks Chris” kataku sambil buru-buru masuk ke dalam rumah “Radiaa” panggilnya menghentikan langkahku “ya?” jawabku sambil menatap matanya “besok pulang sama aku lagi ya?” pintanya, Christof segera memasang tampang innocent “Nggak usah” teriakku menolak “Ayolahh” pintanya lagi “Liat besok ya?” jawabku final “Oyii” teriaknya puas sambil menginjak pedal gas. Aku segera berlari masuk ke rumah dan ku lihat Eline sudah berada di ruang tamu tengah menungguku sambil membaca majalah koleksiku “Eline?” panggilku kaget “Kamu tadi pulang sama siapa? Pacar kamuu?” selidiknya “Mobilnya kayak mobilnya Christof! Atau jangan-jangan dia emang Christof?!” “itu .. ituu bukan Christof! Nggak mungkin lahh!!” jawabku tegang “Ohh ..” desah Eline kembali fokus pada isi majalahku, aku segera duduk di samping Eline, mengambil sebuah majalah dan perlahan-lahan mulai hanyut. “Handphone kamu bunyi tuh!” kata Eline mengagetkanku sambil memperhatikan handphoneku, aku mengambilnya dan membaca nomer yang tertera di sana “Kamu tau ini nomer siapa nggak?” tanyaku pada Eline, Eline menggeleng lemah, ku tekan tombol ‘answer’ dan menjawab telephon itu “Hallo?” sapaku pelan “Radia?” panggil sang penelepon “Iya, ini siapa?” tanyaku tetap pelan “Christof” jawabnya singkat “WHHAATT?!” batinku berteriak kegirangan “Kenapa Chris?” tanyaku sambil menjauh dari Eline “Lagi apa?” tanyanya pelan, suaranya sehalus beledu “Lagi duduk-duduk sama Eline” jawabku “Chris, udah dulu ya?” kataku lagi mengakhiri pembicaraan “kenapa?” tanyanya bingung, tapi segera ku tekan tombol ‘end’ “siapa sih Rad?” tanya Eline penasaran “Abangku” jawabku berbohong, Eline mengangguk tanda mengerti.
**********************
“Haii Rad” teriak Christof lalu langsung duduk di sebelahku “hai Chris” sapaku lembut “Radd! Aku mau ngomong sama kamu boleh?” tanya Christof “Ngomong aja Chris” jawabku sambil tertawa “Sebenernya, aku suka kamu!” kata Christof perlahan tapi sanggup membuat hatiku berdisko ria. Deg .. Deg .. Deg .. “kamu mau jadi pacarku?” lanjutnya lagi, aku tercenung sesaat, memikirkan jawaban apa yang pas untuk saat ini “sorry Chris, aku nggak bisa!” jawabku lemas “kenapa?” selidiknya “karena sahabatku juga suka sama kamu!” jawabku mulai membentak “Eline?” tanya Christof, aku mengangguk  “sorry ya?”, Christof tersenyum, meski ada guratan kecewa dan sedih di wajahnya.
***********************
“Raddiiiiiiiiiiiiaaaaaa” panggil Eline dari kejauhan sambil berlari ke arahku “Kemarin, Christof telephon aku!!” teriaknya histeris, aku hanya mengangguk, dadaku sesak rasanya “dia ngajak aku pulang bareng hari ini” lanjut Eline, pikiranku melayang, mengingat kejadian beberapa hari lalu. Aku dan Christof. Kita. Aku menelungkupkan kepalaku, dari kejauhan Christof memperhatikan aku dan Eline, entah dia memperhatikan aku atau Eline, aku tak peduli, yang jelas di wajahnya tampak raut wajah khawatir. Seusai bertanding, Christof duduk menjajari aku dan Eline  “Makasih ya” bisikku pelan, Christof memperhatikanku “Buat?” “kamu udah bikin Eline seneng” jawabku pelan “Urwell” jawabnya sambil mengangkat bahunya “Line! Pulang yuk?” ajak Christof “Ayoo” jawab Eline semangat “Rad, aku pulang duluan ya?” kata Christof sambil memperhatikan guratan kesedihan di wajahku, aku mengangguk sembari melambaikan tangan ke arah mereka berdua.
*******************
                Aku menutupi wajahku dengan sehelai selimut, saat tiba-tiba handphone ku berbunyi “Eline” desisku “Hallo?” jawabku “Kenapa Line?” “Do you know? Aku jadian sama Christof!!”teriak Eline histeris dan senang “Haha, selamat ya?” pintaku bahagia, padahal aslinya aku nangis “Makasih, besok aku sama Christof mau nraktir kamu makan” jelasnya bahagia “Oke!” jawabku dan ku matikan handphoneku, takut kalau Eline menjelaskan semuanya, jantungku berhenti berdetak.
****************
                “Nanti aku sama Christof njemput kamu jam 7 malem! Kita makan bareng” begitu lah isi pesan dari Eline tadi pagi dan sekarang sudah pukul 18.45, aku masih bingung harus memakai baju apa, akhirnya ku putuskan memakai T-Shirt kuning favoritku dan dipadukan dengan kemeja putih lalu celana jeans dan sepatu kets putihku. Suara mobil Christof menggema hingga dalam kamarku, aku segera menuruni tangga dan menghambur masuk ke dalam mobil Christof. Mobil melaju dengan kecepatan 50km/jam, dan sampailah kita bertiga di restaurant favoritku dan Eline. Tampak jelas kebahagiaan di mata Eline ketika menatap mata Christof, sedangkan aku? Perasaanku campur aduk lah intinya. Saat aku memperhatikan Christof, tanpa sengaja Christof menatap mataku, dia mencoba tersenyum di hadapanku, aku mengangguk dan menunjukkan wajah bahagiaku.
Semenjak itu, aku bersahabat baik dengan Christof dan Eline mengerti hal itu. “Rad, kamu tau nggak? Sebenernya, aku nggak ada rasa apa-apa sama Eline! Aku masih sayang kamu” kata Christof saat bertemu denganku di Café Hotspit, sambil melirikku, perlahan-lahan aku menuliskan sebuah kalimat di sehelai tissue dan ku sodorkan padanya “Aku ngerti Chris, tapi cinta nggak harus memiliki”, dia tersenyum membaca kalimatku, dia mengangguk sekali dan membalas kalimatku di sehelai tissue lain “Jodoh nggak akan kemana”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar