"When no body understand ,
here I write everything I feel ..
here I scream ..
here I tell everything ..
and here I can speak from the deepest of my heart ..
"

Jumat, 13 April 2012

Tapi Bukan Aku


Dinda terus berlari, tak perduli berjuta tetes hujan menyerang tubuh mungilnya, sekali lagi dia melihat jam tangannya “Jam 4 sore”, tiba-tiba sebuah ferrari berwarna hitam berhenti tepat di depannya, cepat-cepat ia masuk ke dalam mobil, untuk menghindari lebih banyak tetes-tetes hujan merajam dirinya. “Kok baru jam segini sih pak jemputnya?” tanya Dinda sambil manyun “Maaf non, tadi di jalan macet banget” terang pak Yitno, supir Dinda, Dinda hanya merespon penjelasan pak Yitno dengan sebuah anggukan “Sekali lagi maaf ya non” kata pak Yitno tak enak hati, melihat majikannya basah kuyup “Iya pak” jawab Dinda, lalu ia kembali memperhatikan hujan yang terus mengguyur kota Malang hari itu.
*********************
“Rachel, ikut aku yuk?” paksa Dinda sambil memohon “Mau kemana sih?”  tanya Rachel tak mengerti “Ke mall” jawab Dinda sambil meringis “Sorry, lagi bokek” terang Rachel sambil menggoyangkan telapak tangannya “Aku yang traktir deh” rayu Dinda sambil terus memohon “Uhm gimana ya?” kata Rachel berpura-pura sedang mempertimbangkan “Okelah! Karena kamu sahabat terbaikku! Tapi, kamu yang traktir!!” “Alahh kamuu!! Iyaa .. iyaa” teriak Dinda sambil menjitak kepala Rachel, dan jadilah sore itu Dinda dan Rachel diantar pak Yitno menuju mall. Saat mereka sedang asik memesan makanan, tiba-tiba Rachel dikejutkan oleh sosok seseorang, yang menurutnya tak asing lagi untuknya “Itu kayak Angga deh”, Dinda langsung mencoba mencari-cari sosok laki-laki yang ditunjuk oleh Rachel “Iya, dia kok sama cewek lain?” tanya Dinda sambil terus memperhatikan Angga “Iyaa, jangan-jangan dia punya cewek lain lagi!” teriak Rachel cemas “Sstt, jangan mikir kayak gitu deh!” kata Dinda sambil menepuk bahu Rachel “Coba kamu sms dia”, Rachel segera mengeluarkan handphonenya dan segera mengetik sebuah kalimat di handphonenya, 15 menit .. 25 menit .. 1 jam .. 2 jam .. tetap tak ada jawaban bahkan sampai Dinda dan Rachel meninggalkan mall.
“Aku khawatir Din” kata Rachel disela kebisuannya “Khawatir soal Angga?” tanya Dinda sambil mengembuskan nafas beratnya , Rachel hanya mengangguk sambil menahan tangisnya. Dinda merasa tak tega melihat sahabanya sedih, “Berapa sih nomernya Angga?” tanya Dinda tiba-tiba, Rachel segera menyerahkan handphonenya, dengan sigap Dinda mencatat nomor handphone Angga, “Aku duluan ya? makasih ya Din” kata Rachel sambil turun dari mobil Dinda, terpancar jelas kesedihan dari wajah sahabatnya itu.
************************
Pukul 11 malam, tunjuk jarum jam yang dengan setia menemani Dinda. Dinda segera mencari-cari sebuah nama di kontak handphonenya dan menekan tombol “call”. Dengan harap-harap cemas, Dinda menanti jawaban dari orang itu “Hallo” terdengar suara berat seorang laki-laki “Angga!” teriak Dinda “Iya? Ini siapa?” tanya Angga “Dinda..” jawab Dinda singkat “Uhmm .. Kenapa Din?” tanya Angga, terdengar nada kaget campur takjub dari suara berat Angga “Tadi sore aku liat kamu lagi di mall sama cewek lain! Siapa dia? Kamu tau nggak? Rachel sedih banget liat kamu sama cewek itu” tanya Dinda menahan marah “hah? Rachel liat aku? Dia ada dimana? Ya ampun Din, maksud kamu Candy? Dia itu adekku” terang Angga panjang lebar “Dia shock berat tauu!!” teriak Dinda geram “Din, sumpah! Demi apa aja, Candy itu adekku!” teriak Angga, cemas “Kamu nggak bohong kan?” selidik Dinda, takut kalau ternyata sahabatnya hanya dipermainkan “Iyaa Din!” jawab Angga “ya udah, jelasin ke Rachel!” kata Dinda, mengurangi emosinya “Iya! Kamu tenang aja!” pinta Angga. KLIK. Telephon pun terputus, “Hufftt” Dinda menghembuskan nafasnya, lega.
***************************
TOKK .. TOKK .. TOKK .. “Haii” sapa Dinda begitu melihat tamunya “Masuk Chel”. Rachel segera melangkahkan kakinya, “masih seperti dulu” batin Rachel, rumah gaya klasik ini yang mampu membuatnya tenang sejak dulu “Tumben Chel, main ke rumah” celetuk Dinda tiba-tiba, membuyarkan lamunan Rachel “Masalah buat loe?” tanya Rachel sambil tersenyum “Haha, kagakk lah” teriak Dinda sambil menjitak kepala Rachel, gemas “Gimana Angga?” tanya Dinda tiba-tiba “Haha, gilaaa so sweet banget dia! Sampek nggak bisa tidur akuu saking senangnya” jawab Rachel, terdengar nada bahagia dari suaranya “aku ikut seneng dengernya” jawab Dinda mencoba tersenyum. Hati Dinda seolah bergejolak kecewa, mendengar semua tentang Angga dari mulut Rachel, yaa tak dapat dipungkiri bahwa Dinda menyimpan rasa untuk Angga, namun apa daya bahwa Angga sudah ada yang punya, dan cewek itu adalah Rachel, sahabatnya sendiri, jadi Dinda harus membuang jauh-jauh rasa sayang itu demi Rachel, “Well, udah sore nih! Aku pulang dulu ya! bisa dihajar mama nihh!” pamit Rachel seraya keluar dari dalam kamar Dinda “Haha, iya .. ya udahh .. baii” jawab Dinda sambil tersenyum, seraya mengantar Rachel ke depan rumahnya. Jejak Rachel segera menghilang di balik gelapnya malam.
Dinda segera mengambil handphonenya dan mencari-cari nomer Angga di kontak handphonenya “Hallo Din” terdengar suara berat Angga “Angga, aku boleh ngomong sesuatu ke kamu?” balas Dinda, terdengar nada ragu dari suaranya “Boleh! Mau ngomong apa Din ..” kata Angga serius “Ngga, sebenarnya aku suka kamu” kata Dinda tiba-tiba. HENING .. “Ngga?” panggil Dinda “Iya Din?” Angga masih takjub mendengar ucapan Dinda “Kamu nggak marah kan?” tanya Dinda “Nggak kok, ngapain harus marah? Tapi, maaf .. aku nggak bisa!” jawab Angga “Aku mau setia sama Rachel” “Aku tahu kok, nggak masalah buat aku, yang penting aku udah jujur sama kamu” celetuk Dinda santai “Sorry ya Din?” kata Angga, merasa bersalah “Nggak apa-apa Ngga” jawab Dinda menahan tangisnya. KLIK.
Dinda terduduk lemas menerima kenyataan pahit itu, lalu dia mengambil gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu di sela tangisnya
“Jangan lagi kau sesali keputusanku
Ku tak ingin, kau semakin kan terluka ..
Tak ingin ku paksakan, cinta ini ..
Meski tiada sanggup untuk kau terima ..
Aku memang manusia paling berdosa,
khianati rasa demi keinginan semu ..
Lebih baik, jangan mencinta biar ku dan semua hatiku ..
Karna takkan pernah, kau temui cinta sejati ..
Berahirlah sudah semua kisah ini dan jangan kau tangisi lagi ..
Sekali pun aku takkan pernah mencoba kembali padamu ..
Sejuta kata maaf terasa kan percuma,
sbab rasa ku tlah mati untuk menyadarinya ..
Semoga saja kan kau dapati hati yang tulus mencintaimu..
Tapi bukan aku ..”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar