Dinda terus
berlari, tak perduli berjuta tetes hujan menyerang tubuh mungilnya, sekali lagi
dia melihat jam tangannya “Jam 4 sore”, tiba-tiba sebuah ferrari berwarna hitam
berhenti tepat di depannya, cepat-cepat ia masuk ke dalam mobil, untuk
menghindari lebih banyak tetes-tetes hujan merajam dirinya. “Kok baru jam
segini sih pak jemputnya?” tanya Dinda sambil manyun “Maaf non, tadi di jalan
macet banget” terang pak Yitno, supir Dinda, Dinda hanya merespon penjelasan
pak Yitno dengan sebuah anggukan “Sekali lagi maaf ya non” kata pak Yitno tak
enak hati, melihat majikannya basah kuyup “Iya pak” jawab Dinda, lalu ia
kembali memperhatikan hujan yang terus mengguyur kota Malang hari itu.
*********************
“Rachel, ikut aku
yuk?” paksa Dinda sambil memohon “Mau kemana sih?” tanya Rachel tak mengerti “Ke mall” jawab
Dinda sambil meringis “Sorry, lagi bokek” terang Rachel sambil menggoyangkan
telapak tangannya “Aku yang traktir deh” rayu Dinda sambil terus memohon “Uhm
gimana ya?” kata Rachel berpura-pura sedang mempertimbangkan “Okelah! Karena
kamu sahabat terbaikku! Tapi, kamu yang traktir!!” “Alahh kamuu!! Iyaa .. iyaa”
teriak Dinda sambil menjitak kepala Rachel, dan jadilah sore itu Dinda dan
Rachel diantar pak Yitno menuju mall. Saat mereka sedang asik memesan makanan,
tiba-tiba Rachel dikejutkan oleh sosok seseorang, yang menurutnya tak asing
lagi untuknya “Itu kayak Angga deh”, Dinda langsung mencoba mencari-cari sosok
laki-laki yang ditunjuk oleh Rachel “Iya, dia kok sama cewek lain?” tanya Dinda
sambil terus memperhatikan Angga “Iyaa, jangan-jangan dia punya cewek lain
lagi!” teriak Rachel cemas “Sstt, jangan mikir kayak gitu deh!” kata Dinda
sambil menepuk bahu Rachel “Coba kamu sms dia”, Rachel segera mengeluarkan
handphonenya dan segera mengetik sebuah kalimat di handphonenya, 15 menit .. 25
menit .. 1 jam .. 2 jam .. tetap tak ada jawaban bahkan sampai Dinda dan Rachel
meninggalkan mall.
“Aku khawatir Din”
kata Rachel disela kebisuannya “Khawatir soal Angga?” tanya Dinda sambil
mengembuskan nafas beratnya , Rachel hanya mengangguk sambil menahan tangisnya.
Dinda merasa tak tega melihat sahabanya sedih, “Berapa sih nomernya Angga?”
tanya Dinda tiba-tiba, Rachel segera menyerahkan handphonenya, dengan sigap
Dinda mencatat nomor handphone Angga, “Aku duluan ya? makasih ya Din” kata
Rachel sambil turun dari mobil Dinda, terpancar jelas kesedihan dari wajah
sahabatnya itu.
************************
Pukul 11 malam,
tunjuk jarum jam yang dengan setia menemani Dinda. Dinda segera mencari-cari
sebuah nama di kontak handphonenya dan menekan tombol “call”. Dengan
harap-harap cemas, Dinda menanti jawaban dari orang itu “Hallo” terdengar suara
berat seorang laki-laki “Angga!” teriak Dinda “Iya? Ini siapa?” tanya Angga
“Dinda..” jawab Dinda singkat “Uhmm .. Kenapa Din?” tanya Angga, terdengar nada
kaget campur takjub dari suara berat Angga “Tadi sore aku liat kamu lagi di
mall sama cewek lain! Siapa dia? Kamu tau nggak? Rachel sedih banget liat kamu
sama cewek itu” tanya Dinda menahan marah “hah? Rachel liat aku? Dia ada
dimana? Ya ampun Din, maksud kamu Candy? Dia itu adekku” terang Angga panjang
lebar “Dia shock berat tauu!!” teriak Dinda geram “Din, sumpah! Demi apa aja,
Candy itu adekku!” teriak Angga, cemas “Kamu nggak bohong kan?” selidik Dinda,
takut kalau ternyata sahabatnya hanya dipermainkan “Iyaa Din!” jawab Angga “ya
udah, jelasin ke Rachel!” kata Dinda, mengurangi emosinya “Iya! Kamu tenang
aja!” pinta Angga. KLIK. Telephon pun terputus, “Hufftt” Dinda menghembuskan
nafasnya, lega.
***************************
TOKK .. TOKK ..
TOKK .. “Haii” sapa Dinda begitu melihat tamunya “Masuk Chel”. Rachel segera
melangkahkan kakinya, “masih seperti dulu” batin Rachel, rumah gaya klasik ini
yang mampu membuatnya tenang sejak dulu “Tumben Chel, main ke rumah” celetuk Dinda
tiba-tiba, membuyarkan lamunan Rachel “Masalah buat loe?” tanya Rachel sambil
tersenyum “Haha, kagakk lah” teriak Dinda sambil menjitak kepala Rachel, gemas
“Gimana Angga?” tanya Dinda tiba-tiba “Haha, gilaaa so sweet banget dia! Sampek
nggak bisa tidur akuu saking senangnya” jawab Rachel, terdengar nada bahagia
dari suaranya “aku ikut seneng dengernya” jawab Dinda mencoba tersenyum. Hati
Dinda seolah bergejolak kecewa, mendengar semua tentang Angga dari mulut
Rachel, yaa tak dapat dipungkiri bahwa Dinda menyimpan rasa untuk Angga, namun
apa daya bahwa Angga sudah ada yang punya, dan cewek itu adalah Rachel,
sahabatnya sendiri, jadi Dinda harus membuang jauh-jauh rasa sayang itu demi
Rachel, “Well, udah sore nih! Aku pulang dulu ya! bisa dihajar mama nihh!”
pamit Rachel seraya keluar dari dalam kamar Dinda “Haha, iya .. ya udahh ..
baii” jawab Dinda sambil tersenyum, seraya mengantar Rachel ke depan rumahnya.
Jejak Rachel segera menghilang di balik gelapnya malam.
Dinda segera
mengambil handphonenya dan mencari-cari nomer Angga di kontak handphonenya
“Hallo Din” terdengar suara berat Angga “Angga, aku boleh ngomong sesuatu ke
kamu?” balas Dinda, terdengar nada ragu dari suaranya “Boleh! Mau ngomong apa
Din ..” kata Angga serius “Ngga, sebenarnya aku suka kamu” kata Dinda
tiba-tiba. HENING .. “Ngga?” panggil Dinda “Iya Din?” Angga masih takjub
mendengar ucapan Dinda “Kamu nggak marah kan?” tanya Dinda “Nggak kok, ngapain
harus marah? Tapi, maaf .. aku nggak bisa!” jawab Angga “Aku mau setia sama
Rachel” “Aku tahu kok, nggak masalah buat aku, yang penting aku udah jujur sama
kamu” celetuk Dinda santai “Sorry ya Din?” kata Angga, merasa bersalah “Nggak
apa-apa Ngga” jawab Dinda menahan tangisnya. KLIK.
Dinda terduduk
lemas menerima kenyataan pahit itu, lalu dia mengambil gitarnya dan menyanyikan
sebuah lagu di sela tangisnya
“Jangan lagi kau
sesali keputusanku
Ku
tak ingin, kau semakin kan terluka ..
Tak ingin ku
paksakan, cinta ini ..
Meski tiada sanggup untuk kau terima ..
Meski tiada sanggup untuk kau terima ..
Aku memang
manusia paling berdosa,
khianati rasa demi keinginan semu ..
khianati rasa demi keinginan semu ..
Lebih baik,
jangan mencinta biar ku dan semua hatiku ..
Karna takkan
pernah, kau temui cinta sejati ..
Berahirlah sudah
semua kisah ini dan jangan kau tangisi lagi ..
Sekali pun aku
takkan pernah mencoba kembali padamu ..
Sejuta kata maaf
terasa kan percuma,
sbab rasa ku tlah mati untuk menyadarinya ..
sbab rasa ku tlah mati untuk menyadarinya ..
Semoga saja kan
kau dapati hati yang tulus mencintaimu..
Tapi bukan aku
..”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar