“Kita!” panggil
Diva dari kejauhan sambil mengejar sang pemilik nama, Kita segera mencari-cari
sosok yang tadi menyebut namanya dengan wajah pucatnya “Iya?” jawab Kita lemas
“Kamu sakit? Pulang sama aku aja yuk! Aku nggak mau kamu kenapa-napa! Sekarang
juga lagi hujan ..” ajak Diva sambil memegang kening Kita “Nggak apa-apa Va ..
Kamu tenang aja!” jawab Kita sambil mencoba tersenyum untuk melegakan hati
sahabatnya “Beneran?” tanya Diva, Kita hanya mengangguk tak berdaya “Kita!
Serius aku nggak mau kamu kenapa-kenapa! Bareng aku aja ya?” ajak Diva sekali
lagi “Nggak usah Diva!” jawab Kita sambil menggeleng “Serius kamu?” selidik
Diva “Muka kamu udah pucat benget” “Serius, aku nggak apa-apa! Udah sana
pulang!” jawab Kita sambil mendorong tubuh Diva menjauh “Ya udah ya? awas
sampai kamu kenapa-kenapa” kata Diva diikuti lambaian dari Kita. Akhir-akhir
ini memang cuaca tak menentu, kadang cerah, kadang berawan atau kadang hujan
seperti hari ini. Kita terus berjalan, menerobos hujan yang tak tahu kapan akan
berhenti, walaupun dia tahu keadaan tubuhnya sangat lemah saat ini. Tiba-tiba
BRUKK, Kita jatuh terduduk, sambil memegang kepalanya yang terasa berat, ia
mencoba untuk bangkit berdiri, namun apa daya tubuhnya tak kuat dan kembali ia
terjatuh. Samar-samar, terlihat sosok seorang laki-laki berlari ke arahnya, dia
menyampirkan jaket yang dia kenakan ke tubuh gadis yang tergeletak tak berdaya
itu, lalu semuanya terasa gelap di mata Kita ..
“Kamu udah nggak
apa-apa?” terdengar suara laki-laki yang tak dikenalnya, Kita mencoba mengenali
suara itu, namun kepalanya masih terasa berkunang-kunang “Masih pusing ya?”
tanya suara itu lagi “Aku dimana sih?” tanya Kita setelah pandangannya terasa
jelas “Kamu di rumah aku” jawab laki-laki itu “Nah kamu siapa?” tanya Kita lagi
“Aku Kelvin, kamu siapa?” tanya Kelvin sambil menjabat tangan Kita “Ohh Kelvin?
Aku Kita” jawab Kita sambil tersenyum, memamerkan lesung pipitnya “Kita? Nama
mu lucu juga” kata Kelvin sambil menyodorkan segelas teh hangat “Haha, makasih”
balas Kita sambil menerima segelas teh hangat dari tangan Kelvin.
“Aku mau pulang”
celetuk Kita tiba-tiba, ketika jam di kamar Kelvin menujukkan pukul 9 malam
“Kamu yakin?” tanya Kelvin “Kamu masih lemas banget” “Nggak apa-apa! Orang
tuaku pasti khawatir!” jawab Kita sambil mencoba bangun dari tempat tidur “Biar
aku yang antar” ajak Kelvin sambil memberikan jaket kesayangannya pada Kita
“Nggak usah, aku bisa pulang sendiri” balas Kita menolak “Sekarang udah jam 9
malam! Kamu sakit! Jadi aku harus mengantar kamu!” protes Kelvin. Akhirnya Kita
menurut saja diantar Kelvin hingga sampai di depan pintu rumahnya “Thanks ya
Vin” kata Kita ketika Kita hendak membuka pintu rumah “Mau mampir dulu?” “Nggak
usah Ta, kapan-kapan aja! Aku duluan ya!” jawab Kelvin sambil cepat-cepat
berlari ke arah mobilnya, menghindari hujan yang terus mengguyur. Kita hanya
tersenyum melihat tingkah Kelvin yang berlari-lari kecil menghindari hujan itu,
“Kelvin” desahnya pelan, namun yang punya nama sudah pergi meninggalkan Kita
bersama sejuta bayangnya.
Malam sudah
menunjukkan pukul 12, tapi mata Kita masih belum bisa terpejam. Bayangan Kelvin
terus bergelayut di benaknya, “Kelvin” bisiknya sambil tersenyum ceria “Aku
suka kamu? Tapi, aku nggak yakin! Mungkin hanya sebatas suka biasa” “Kamu yakin
itu hanya sebatas suka biasa?” tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang sudah
tak asing lagi baginya dan suara itu adalah milik “Kelvin!” jeritnya
kegirangan, sayang semua itu hanya halusinasi Kita. Tak ada sosok Kelvin yang
menjawab semua pertanyaan di benaknya, tak ada senyum Kelvin yang menemaninya
“Ahh udahlahh! Good night Kelvin” kata Kita lalu memejamkan matanya erat-erat.
“Kelvin?” panggil
Kita, tak percaya dengan apa yang dilihatnya sepulang sekolah, Kelvin hanya
tersenyum melihat Kita “Kamu ngapain di sini? Masuk yuk!” Kelvin segera
mengikuti langkah mungil Kita, lalu duduk di salah satu sofa yang tersedia di
ruang tamu rumah Kita “Kamu ngapain di sini?” ulang Kita sambil duduk menjajari
Kelvin “Aku mau pamit sama kamu Ta!” jawab Kelvin “Kamu mau kemana?” tanya Kita,
terdengar nada kaget dari suaranya “Aku mau pindah sekolah di Melbourne!” jawab
Kelvin “Kenapa?” tanya Kita lagi, lemas “Dari dulu, emang cita-cita aku sekolah
di Melbourne” balas Kelvin sambil meminum es jeruk yang telah disediakan mbok Sum, pembantu rumah tangga Kita. Kita
diam sejenak, air matanya hampir meleleh mendengar ucapan laki-laki yang mampu
membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama ini “tapi kamu tenang aja! Kita
pasti bisa ketemu lagi kok” kata Kelvin seakan bisa melihat kegelisahan di
benak Kita, Kita hanya mengangguk sambil berusaha membendung air matanya “Kapan
kamu berangkat?” tanya Kita tiba-tiba, setelah lama dia diam membisu “Jam 5
sore ..” jawab Kelvin “Ya udah, aku pulang ya? nanti kamu datang kan ke
airport?” Kita hanya mengangguk sembari menatap dalam-dalam mata biru Kelvin.
Kelvin segera berlalu dari hadapan Kita tanpa mengetahui kesedihan yang
tergambar jelas di hati Kita.
“Kita” teriak
Kelvin, ketika melihat Kita sedang kebingungan mencari-cari dirinya di antara
para penumpang yang akan menuju Melbourne, Kita segera berlari menemui Kelvin “Belum
berangkat?” tanya Kita sambil melihat tiket pesawat Kelvin “Sebentar lagi”
jawab Kelvin memperhatikan Kita, tiba-tiba terdengar suara reseptionis
memanggil para penumpang yang akan menuju Melbourne, karena pesawat sebentar
lagi akan lepas landas “Bye Ta” teriak Kelvin sambil melambaikan tangannya,
Kita hanya tersenyum sambil membalas lambaian Kelvin, dia sudah tak mampu lagi
membendung air matanya, tiba-tiba Kelvin kembali ke hadapan Kita, dia merengkuh
tubuh mungil Kita “Jaga dirimu baik-baik! Aku nggak akan pernah lupain kamu!”,
Kita hanya mengangguk sambil mencoba untuk tersenyum. Lagu “Ku Tetap Menanti”,
senantiasa menemani langkah Kita meninggalkan airport sore itu, ditemani air
mata yang masih terus mengalir di pipinya, “Ku tetap menanti, meski harus
penantian panjang .. Ku akan tetap setia menunggumu ku tahu kau hanya untukku
.. Biarlah waktuku, habis oleh penantian ini .. hingga kau percaya betapa besar
.. Cintaku padamu .. Ku tetap menanti ..” bisiknya lirih sambil mencoba
tersenyum melepas kepergian Kelvin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar