"When no body understand ,
here I write everything I feel ..
here I scream ..
here I tell everything ..
and here I can speak from the deepest of my heart ..
"

Kamis, 12 April 2012

Bolehkah aku menantimu?


“Kita!” panggil Diva dari kejauhan sambil mengejar sang pemilik nama, Kita segera mencari-cari sosok yang tadi menyebut namanya dengan wajah pucatnya “Iya?” jawab Kita lemas “Kamu sakit? Pulang sama aku aja yuk! Aku nggak mau kamu kenapa-napa! Sekarang juga lagi hujan ..” ajak Diva sambil memegang kening Kita “Nggak apa-apa Va .. Kamu tenang aja!” jawab Kita sambil mencoba tersenyum untuk melegakan hati sahabatnya “Beneran?” tanya Diva, Kita hanya mengangguk tak berdaya “Kita! Serius aku nggak mau kamu kenapa-kenapa! Bareng aku aja ya?” ajak Diva sekali lagi “Nggak usah Diva!” jawab Kita sambil menggeleng “Serius kamu?” selidik Diva “Muka kamu udah pucat benget” “Serius, aku nggak apa-apa! Udah sana pulang!” jawab Kita sambil mendorong tubuh Diva menjauh “Ya udah ya? awas sampai kamu kenapa-kenapa” kata Diva diikuti lambaian dari Kita. Akhir-akhir ini memang cuaca tak menentu, kadang cerah, kadang berawan atau kadang hujan seperti hari ini. Kita terus berjalan, menerobos hujan yang tak tahu kapan akan berhenti, walaupun dia tahu keadaan tubuhnya sangat lemah saat ini. Tiba-tiba BRUKK, Kita jatuh terduduk, sambil memegang kepalanya yang terasa berat, ia mencoba untuk bangkit berdiri, namun apa daya tubuhnya tak kuat dan kembali ia terjatuh. Samar-samar, terlihat sosok seorang laki-laki berlari ke arahnya, dia menyampirkan jaket yang dia kenakan ke tubuh gadis yang tergeletak tak berdaya itu, lalu semuanya terasa gelap di mata Kita ..
“Kamu udah nggak apa-apa?” terdengar suara laki-laki yang tak dikenalnya, Kita mencoba mengenali suara itu, namun kepalanya masih terasa berkunang-kunang “Masih pusing ya?” tanya suara itu lagi “Aku dimana sih?” tanya Kita setelah pandangannya terasa jelas “Kamu di rumah aku” jawab laki-laki itu “Nah kamu siapa?” tanya Kita lagi “Aku Kelvin, kamu siapa?” tanya Kelvin sambil menjabat tangan Kita “Ohh Kelvin? Aku Kita” jawab Kita sambil tersenyum, memamerkan lesung pipitnya “Kita? Nama mu lucu juga” kata Kelvin sambil menyodorkan segelas teh hangat “Haha, makasih” balas Kita sambil menerima segelas teh hangat dari tangan Kelvin.
“Aku mau pulang” celetuk Kita tiba-tiba, ketika jam di kamar Kelvin menujukkan pukul 9 malam “Kamu yakin?” tanya Kelvin “Kamu masih lemas banget” “Nggak apa-apa! Orang tuaku pasti khawatir!” jawab Kita sambil mencoba bangun dari tempat tidur “Biar aku yang antar” ajak Kelvin sambil memberikan jaket kesayangannya pada Kita “Nggak usah, aku bisa pulang sendiri” balas Kita menolak “Sekarang udah jam 9 malam! Kamu sakit! Jadi aku harus mengantar kamu!” protes Kelvin. Akhirnya Kita menurut saja diantar Kelvin hingga sampai di depan pintu rumahnya “Thanks ya Vin” kata Kita ketika Kita hendak membuka pintu rumah “Mau mampir dulu?” “Nggak usah Ta, kapan-kapan aja! Aku duluan ya!” jawab Kelvin sambil cepat-cepat berlari ke arah mobilnya, menghindari hujan yang terus mengguyur. Kita hanya tersenyum melihat tingkah Kelvin yang berlari-lari kecil menghindari hujan itu, “Kelvin” desahnya pelan, namun yang punya nama sudah pergi meninggalkan Kita bersama sejuta bayangnya.
Malam sudah menunjukkan pukul 12, tapi mata Kita masih belum bisa terpejam. Bayangan Kelvin terus bergelayut di benaknya, “Kelvin” bisiknya sambil tersenyum ceria “Aku suka kamu? Tapi, aku nggak yakin! Mungkin hanya sebatas suka biasa” “Kamu yakin itu hanya sebatas suka biasa?” tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang sudah tak asing lagi baginya dan suara itu adalah milik “Kelvin!” jeritnya kegirangan, sayang semua itu hanya halusinasi Kita. Tak ada sosok Kelvin yang menjawab semua pertanyaan di benaknya, tak ada senyum Kelvin yang menemaninya “Ahh udahlahh! Good night Kelvin” kata Kita lalu memejamkan matanya erat-erat.
“Kelvin?” panggil Kita, tak percaya dengan apa yang dilihatnya sepulang sekolah, Kelvin hanya tersenyum melihat Kita “Kamu ngapain di sini? Masuk yuk!” Kelvin segera mengikuti langkah mungil Kita, lalu duduk di salah satu sofa yang tersedia di ruang tamu rumah Kita “Kamu ngapain di sini?” ulang Kita sambil duduk menjajari Kelvin “Aku mau pamit sama kamu Ta!” jawab Kelvin “Kamu mau kemana?” tanya Kita, terdengar nada kaget dari suaranya “Aku mau pindah sekolah di Melbourne!” jawab Kelvin “Kenapa?” tanya Kita lagi, lemas “Dari dulu, emang cita-cita aku sekolah di Melbourne” balas Kelvin sambil meminum es jeruk yang telah disediakan  mbok Sum, pembantu rumah tangga Kita. Kita diam sejenak, air matanya hampir meleleh mendengar ucapan laki-laki yang mampu membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama ini “tapi kamu tenang aja! Kita pasti bisa ketemu lagi kok” kata Kelvin seakan bisa melihat kegelisahan di benak Kita, Kita hanya mengangguk sambil berusaha membendung air matanya “Kapan kamu berangkat?” tanya Kita tiba-tiba, setelah lama dia diam membisu “Jam 5 sore ..” jawab Kelvin “Ya udah, aku pulang ya? nanti kamu datang kan ke airport?” Kita hanya mengangguk sembari menatap dalam-dalam mata biru Kelvin. Kelvin segera berlalu dari hadapan Kita tanpa mengetahui kesedihan yang tergambar jelas di hati Kita.
“Kita” teriak Kelvin, ketika melihat Kita sedang kebingungan mencari-cari dirinya di antara para penumpang yang akan menuju Melbourne, Kita segera berlari menemui Kelvin “Belum berangkat?” tanya Kita sambil melihat tiket pesawat Kelvin “Sebentar lagi” jawab Kelvin memperhatikan Kita, tiba-tiba terdengar suara reseptionis memanggil para penumpang yang akan menuju Melbourne, karena pesawat sebentar lagi akan lepas landas “Bye Ta” teriak Kelvin sambil melambaikan tangannya, Kita hanya tersenyum sambil membalas lambaian Kelvin, dia sudah tak mampu lagi membendung air matanya, tiba-tiba Kelvin kembali ke hadapan Kita, dia merengkuh tubuh mungil Kita “Jaga dirimu baik-baik! Aku nggak akan pernah lupain kamu!”, Kita hanya mengangguk sambil mencoba untuk tersenyum. Lagu “Ku Tetap Menanti”, senantiasa menemani langkah Kita meninggalkan airport sore itu, ditemani air mata yang masih terus mengalir di pipinya, “Ku tetap menanti, meski harus penantian panjang .. Ku akan tetap setia menunggumu ku tahu kau hanya untukku .. Biarlah waktuku, habis oleh penantian ini .. hingga kau percaya betapa besar .. Cintaku padamu .. Ku tetap menanti ..” bisiknya lirih sambil mencoba tersenyum melepas kepergian Kelvin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar