"When no body understand ,
here I write everything I feel ..
here I scream ..
here I tell everything ..
and here I can speak from the deepest of my heart ..
"

Jumat, 13 April 2012

Sekedar Sahabat


“Kitaaaa!! Help me!!” teriak Gia dari kejauhan “Kamu kenapa sih?” tanya Kita setelah Gia berada di sampingnya “Aku dikejarr terus sama Vanii! Mau dilemparin pakai kursi guru!” jawab Gia dengan nafas ngos-ngosan karena kelelahan “Haha .. Kok bisa? Ngerjain dia lagi?” tanya Kita mengerti kebiasaan Gia, Gia hanya tersenyum simpul memamerkan lesung pipitnya “Mau sampai kapan sih kamu ngerjain Vani terus?” tanya Kita sambil menikmati segelas es jeruk yang telah dipesannya “Sampai dia nggak sok pinter di depan aku” jawab Gia santai “Salahnya waktu aku nggak bisa ngerjain soal fisika, dia dengan santainya maju ke depan, ngrebut spidol dari tanganku, terus nulisin jawabannya di papan ..” “Mungkin maksud Vani baik Gia, dia mau ngajarin kamu, supaya kamu itu pinteran dikit soal fisika ..” kata Kita sambil tertawa terbahak-bahak melihat Gia manyun “Haduuhh! Tauu dehh!! Males mbahas dia, kalo gitu aku balik ke kelas duluann ya!” teriak Gia sambil berjalan meninggalkan Kita.
“Giaa! Mau pulang bareng nggak?” tanya Kita ketika melihat Gia berjalan mendekatinya dan mobilnya “Boleehhh bangett!” balas Gia sambil hendak masuk ke mobil Kita “Ehh .. Ehh .. Ta, tau nggak? Vani suka sama Aditya lhoo” teriak Gia ketika melihat Vani berjalan melewatinya, alhasil Vani menghentikan langkahnya dan dia terlihat sangat kaget setelah mendengar perkataan Gia “Gia! Jangan ngawur kalau ngomong!” teriak Kita sambil keluar dari mobilnya “Ada kakak kelas yang suka sama Aditya! Bisa-bisa Vani dilabrak sama dia, gara-gara denger kamu ngomong gitu!” “Kita?” tanya Gia tak percaya mendengar perkataan Kita, baru pertama kali Gia melihat Kita semarah itu padanya, Gia segera menutup pintu mobil Kita dan berlari menerobos kerumunan teman-temannya yang sedang memperhatikannya “Giaa” panggil Kita sambil mencoba mengejar Gia.
*********************************
 “Hallo mbok, Gianya ada?” tanya Kita lewat telephon “Non Gia? Waduhh, dari tadi belum pulang non ..” jawab mbok Mirah, pembantu rumah tangga Kita “Belum pulang? Sekarang udah jam 10 malam mbok” kata Kita gelisah “Saya juga kurang tau non” balas mbok Mirah bingung “Ya udah, makasih ya mbok” pinta Kita sambil menutup telphonnya malam itu. “Gia, kamu kemana sihh?” tanya batin Kita setelah telphon antara dirinya dan mbok Mirah terputus, Kita segera mengambil handphonenya dan mencari-cari nama Gia di kontak handphonenya “Maaf, nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif” kata sang operator menambah kegelisahan di hati Kita “Handphonenya nggak aktif lagi dari tadi! Giaa .. Jangan bikin akuu ngrasa bersalah gini dongg!! Please .. Kasi aku kabar!!” teriak Kita depresi di kamarnya.
*********************************
“Vani .. Tauu Gia nggak?” tanya Kita ketika melihat Vani di dalam kelas Gia “Seharian ini dia nggak ada Ta! Kamu kenapa? Sakit?” tanya Vani sambil memperhatikan Kita yang sedang lemas hari itu “Aku baik-baik aja kok!” jawab Kita sambil tersenyum “Aku khawatir sama Gia! Dari kemarin dia nggak ada kabar sama skali” “Aku yakin, dia baik-baik aja Ta! Dia cuma butuh nenangin diri!” kata Vani sambil menepuk bahu Kita, memberi semangat “Aku harap juga gitu!” balas Kita “Aku minta maaf ya Ta! Gara-gara aku, kamu jadi cemas mikirin Gia” pinta Vani merasa bersalah “Nggak apa-apa Van! Aku yang salah, terlalu keras sama dia! Udah tau Gia ituu anaknya manja banget ..” kata Kita sambil mencoba tersenyum, untuk melegakan hati Vani.
***********************************
Selama 5 hari, Gia tidak masuk sekolah, selama 5 hari pula Gia tidak ada kabar sama skali, dan tanpa disangka-sangka, tiba-tiba Gia muncul di sekolah, tapi dengan sosok yang berbeda, bahkan seperti bukan Gia. Gia berubah menjadi orang yang pendiam dan suka menyendiri “Gia!!” panggil Kita mencoba meraih tangan Gia, Gia hanya menoleh tanpa mengatakan sepatah kata pun “Kamu kemana aja? Aku khawatir sama kamu!” kata Kita “Masih perduli kamu sama aku?” tanya Gia datar “Kamu ngomong apa sih Gia? Jelas aku perduli sama kamu! Kamu sahabat aku!” teriak Kita sambil mulai menitikkan air mata “Kamu masih nganggep aku sahabat?” tanya Gia lagi, tetap datar “Giaa!! Jangan kayak gini” kata Kita memohon “Tangan kamu kenapa Gi?” “Nggak kenapa-kenapa” terang Gia sembari menarik tangannya dari pegangan Kita lalu pergi meninggalkan Kita seorang diri.
***********************************
Esoknya, Gia nggak ada lagi di sekolah. Hal itu membuat depresi Kita semakin menjadi-jadi “Giaa! Kamu kemana lagi sihh?” tanya Kita sambil mecari sosok Gia “Gia nggak masuk hari ini” jawab semua orang yang ditanyai Kita tentang keberadaan Gia. Sepulang sekolah, Kita pergi ke rumah Gia, diantar oleh pak Sentot, supir pribadi Kita. Perlahan-lahan, Kita memasuki rumah megah itu “TOKK .. TOKK .. TOKK” “Ada yang bisa dibantu non?” tanya mbok Mirah dengan ramah “Gia ada nggak mbok?” tanya Kita “Non Gia masuk rumah sakit non .. tadi pagi baru masuk” jawab mbok Mirah “Sakit apa mbok?” tanya Kita histeris karena kaget “Kurang tau saya non! Yang jelas dia dirawat di rumah sakit Fatmawati” jawab mbok Mirah “Ya udah, makasih mbok” teriak Kita sambil berlari menuju mobilnya. Dengan kecepatan 75 km/jam, mobil BMW merah itu melaju menuju rumah sakit Fatmawati, tempat Gia dirawat sekarang. Setelah sampai di rumah sakit, Kita berlari sekuat tenaga menuju ruang UGD, pikirannya sudah terlanjur sangat panik “Om, Gia mana?” tanya Kita ketika melihat orang tua Gia, ayah Gia hanya mengembuskan nafas “Gia sudah nggak ada Ta” jawab ibu Gia perlahan, menjaga perasaan Kita “Jangan bercanda tante! Gia masih ada” kata Kita sambil terduduk lemas “Memang itu kenyataannya Kita” pinta ayah Gia sambil berusaha membendung air matanya “Dia meninggal karena depresi, kami kurang perhatian sama dia! kemudian dia mulai mencoba menggunakan narkoba dan over dosis” mendengar pernyataan dari orang tua Gia, Kita langsung menghambur masuk ke dalam UGD. Dilihatnya Gia terbaring lemas, sudah tak berdaya “Gia, aku minta maaf” pinta Kita, dadanya terasa sesak harus menerima kenyataan bahwa Gia sudah tidak ada lagi, dengan sifat jailnya “Aku memang salah! Maaf Gi! Padahal aku tau sendiri, kondisi keluarga kamu kayak apa ..” lanjutnya lagi, ditemani air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya, kali ini tak hanya Kita yang meneteskan air mata, Gia pun begitu, tiba-tiba terlihat benda bening yang mengalir dari matanya “Gia, istirahat yang tenang ya? semua tentang kamu, akan selalu tersimpan di hatiku” kata Kita mencoba tersenyum sambil menghapus air mata di pipi Gia.

1 komentar: